Maaf, aku tersadar.
Untungnya kamu belum tersadar.
Aku tersadar, kusebut saja kau dan aku-karena aku tak pantas menyebut kita-ternyata sungguh berbeda.
Untunglah kau tak pernah tahu aku pernah meragu karenamu.
Untunglah bibit perasaan itu baru hendak muncul.
Untunglah aku tidak sempat menggunakan perasaan hingga aku tak terlalu lemah terjatuh.
Namun apalah dia jika bukan secuil perasaan?
Aku kembali bersembunyi dalam ruang tunggu itu, dan merindu hingga semua yang kutunggu mewujud ‘kamu’.
Aku yakin janji ‘itu’.
Jika janji itu bukan kamu, semoga kau tak pernah tersadar akan aku.
--Kurangkum menjadi tulisan biasa dan singkat ini dari beberapa kisah dan perasaan orang-orang disekitarku beberapa hari ini. :)
Minggu, 09 November 2014
Sabtu, 01 November 2014
Pesan untuk Tuan yang Entah di Mana
Hai kau tuan masa depanku
yang dari galaksi entah apa
yang masih juga tak kunjung tiba
yang masih juga entah dimana
Dimana kamu sekarang?
Aku punya pesan untukmu
Tidak banyak
Tak juga panjang lebar
Singkat saja
Izinkan aku meminta sedikit jawaban
Kuharap itu menenangkan
Izinkan aku meminta sedikit pengertian
Kuharap itu melegakan
Jika kau sudah tiba nanti
Beri aku sebuah tanda
Jangan hanya memanggil di depan pintu
Apalagi berbisik dari kejauhan
Ketuklah pintunya
Pintu putih yang dikotori banyak warna
Ketuklah lebih keras jika masih juga belum membuka
Mungkin aku belum mendengar jelas
Aku hanya takut kau terlalu bosan untuk menunggu,
meski sejenak sewaktu
Lalu kau putuskan untuk pergi
Mencari pintu lain yang aku entah tak tahu
Tersisa aku menanti waktu berlalu
Tergugu meragu sendiri satu
Tolong tenangkan aku.
Indralaya, Kamis, 30 Oktober 2014.
Minggu, 26 Oktober 2014
Danke, Aksara
Aku berterima kasih kepada aksara.
Ketika kata-kataku tak mampu kulengkingkan di hamparan jagad raya, aku menuliskannya kedalam kalimat-kalimat dari ruang antah-berantah yang kadang tak terjamah oleh praduga jalinan sinyal di pikiranmu.
F. F. K.
Minggu, 19 Oktober 2014
Kita Mahluk Malam
Kita mahluk malam,
yang takut akan kegelapan,
risau dengan jalan setapak di depan,
bingung bagaimana harus melangkah,
tapi harus terus berjalan.
Kita mahluk malam,
yang rindu sinaran tenang,
bermain dengan titik-titik harapan,
mencari cahaya penuntun jalan,
melangkah ragu dengan banyak pertanyaan.
Kita mahluk malam,
selalu terseok dalam kegelapan,
tetap bertahan di jalan yang panjang,
tersadar sebuah cahaya telah menuntun sejak permulaan,
tak perlu berharap pada siang.
Aku mahluk malam, kau juga mahluk malam,
ya, kita mahluk malam,
membicarakan siang dan malam,
ini sudah larut malam,
aku butuh tidur malam,
selamat malam.
yang takut akan kegelapan,
risau dengan jalan setapak di depan,
bingung bagaimana harus melangkah,
tapi harus terus berjalan.
Kita mahluk malam,
yang rindu sinaran tenang,
bermain dengan titik-titik harapan,
mencari cahaya penuntun jalan,
melangkah ragu dengan banyak pertanyaan.
Kita mahluk malam,
selalu terseok dalam kegelapan,
tetap bertahan di jalan yang panjang,
tersadar sebuah cahaya telah menuntun sejak permulaan,
tak perlu berharap pada siang.
Aku mahluk malam, kau juga mahluk malam,
ya, kita mahluk malam,
membicarakan siang dan malam,
ini sudah larut malam,
aku butuh tidur malam,
selamat malam.
F. F. K.
Jumat, 17 Oktober 2014
Ingin Menjadi Apa Setelah Dewasa?
Apa keinginan terbesarmu ketika masih kecil dulu? Entah dengan kebanyakan orang tapi aku sejujurnya punya banyak keinginan dan harapan.
Aku ingat sewaktu ditanya guru saat kecil dulu, "mau jadi apa kalo udah besar?", aku selalu tahu untuk menjawab "mau jadi insinyur", seperti mama. Karena sepertinya hanya itu satu-satunya hal mengenai cita-cita dan pekerjaan yang ada di dalam pikiranku saat dulu. Jika anak-anak yang lain berkeinginan menjadi dokter, aku ingat betul aku tidak pernah terucap untuk bercita-cita seperti mereka.
Atau jika harus memberikan jawaban lain, aku akan menjawab, " mau jadi seperti papa yang jadi sarjana hukum", karena aku tidak terlalu tahu pekerjaan apa yang bisa dijalani jika menjadi seorang sarjana hukum.
Kemudian aku mengubah cita-citaku ingin menjadi seorang ahli sejarah setelah aku cukup senang mempelajari sejarah. Tak lama tidak begitu berbeda dengan cita-cita sebelumnya, aku juga ingin menjadi seorang ahli paleontologi. Kau tahu, orang yang pekerjaannya senang mencari-cari dan membersihkan fosil atau tulang belulang mahluk masa lalu-begitu aku dulu menjelaskannya. Lalu aku merubah keinginanku untuk menjadi seorang penulis. Aku suka membaca, lalu berkhayal, dan terkadang menuliskannya dalam bentuk cerita yang monoton dan kalau diingat-ingat sekarang membuatku merasa malu sendiri dengan tingkah dan khayalan mainstream-ku dulu. Setelah sedikit lebih besar, aku punya keinginan untuk menjadi seorang arsitek. Sejak kecil aku sering melihat majalah-majalah arsitek yang menggambarkan desain dan ukuran rumah-rumah yg menurutku unik. Aku hanya ingin membuat rumah yang sesuai dengan keinginanku. Sewaktu hendak memutuskan untuk memilih jurusan kuliah, mama mengajakku berpikir ulang apakah daya otakku sanggup atau tidak dengan ilmu hitung dan ketelitan seorang arsitek, yang pada kenyataannya aku membenci ilmu hitung tingkat tinggi dan aku sangat ceroboh dalam hal 'pendetailan'. Pada akhirnya aku memilih jurusan ku yang sekarang...
Seperi lirik lagu soundtrack anime 'Minki Momo', "ingin menjadi apa setelah dewasa?". Aku kembali memilah-milih apa keinginanku. Aku masih ingin menikmati sejarah, aku ingin merancang sendiri rumahku nanti, aku juga ingin mempunyai rumah dengan halaman yang luas yang bisa ditumbuhi banyak pohon dan tanaman-tanaman lainnya untuk bisa kurawat dan kunikmati diwaktu senggang. Aku juga masih ingin menjadi seorang penulis, meskipun aku tidak punya khayalan hebat apapun untuk kutulis. Aku juga ingin menjadi berguna dengan menjadi seorang pengajar, meskipun aku masih memiliki banyak kekurangan dan ketidaktahuan.
Tapi kemudian terlebih, yang tiba-tiba terbersit disuatu ketika, dan kupikir tentunya ini menjadi keinginan, doa dan harapan perempuan semuanya, pada kenyataannya aku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik dan mencukupi dunia akhirat untuk keluargaku nanti. Untuk mewujudkan itu, aku masih harus banyak berusaha dan belajar dengan ikhlas. Tentunya, aku sangat berharap akan ridho dunia akhirat dari imamku kelak, dan ini tentu keinginan yang sulit dari semua keinginanku. Suatu ketika aku berpikir tentang semua ini, dan mengambil kesimpulan, bagiku nanti, ridho suami itu sungguh cukup menjadi salah satu bekal untuk menghadap-Nya kelak, kan?
Senin, 06 Oktober 2014
Kau, Candu
Kaulah Anandamide itu.
Aku mencandumu.
Kaulah Endorphine itu.
Kau sumber canduku.
Tapi aku tak pernah jadi sumber candumu.
Apalagi mau kau candu.
Aku sudah tau!
(Sebenarnya ini sudah beberapa bulan tersimpan di draf) :)
Aku mencandumu.
Kaulah Endorphine itu.
Kau sumber canduku.
Tapi aku tak pernah jadi sumber candumu.
Apalagi mau kau candu.
Aku sudah tau!
(Sebenarnya ini sudah beberapa bulan tersimpan di draf) :)
Minggu, 28 September 2014
Ada Apa?
Aku punya cerita. Kuceritakan saja di sini. Aku lebih suka bercerita di sini. Bercerita dengan diriku sendiri. Toh orang lain belum tentu mau menjadi pendengar. Nasib juga berpihak, tidak ada orang yang bisa kujadikan pendengar. Namun aku menjadi bingung mau bercerita apa. Toh diriku sendiri sudah sangat tahu ada hal apa.
Langganan:
Postingan (Atom)