Minggu, 09 November 2014

Seharusnya Cinta Baik-Baik Saja

Aku lebih suka kisah cinta yang mana para lakonnya tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta namun sesungguhnya kita semua bisa tahu dengan melihat ke kedalaman mata para lakon bahwa terdapat gelegak-gelegak perasaan hangat, cinta, dan kasih sayang yang tak bisa ditutupi oleh kabut dan kegelapan sekalipun. Tak terucapkan sekalipun namun mereka saling tahu dan tentu semua tahu ada suatu harapan dan keindahan perasaan diantara kedua cucu adam dan hawa tersebut. Bukankah itu indah? Hah, aku bahkan sampai hampir menitikkan air mata membayangkannya. Menurutku, hal seperti itu lebih indah ketimbang mereka yang saling melempar dan mengumbar kata cinta dan sayangnya hanya untuk dilihat orang bahwa mereka 'merasa' sudah siap untuk saling memiliki, padahal kenyataannya mereka sedang asyik memantapkan diri sendiri apakah benar seyakin itu menyukai dan menyayangi 'pasangan'nya.

Seperti kata seorang penulis, Tere Liye, yang mengatakan 'apakah mungkin sesuka itu?'. Jujur saja, aku mengiyakan dalam hati perkataan itu karena begitulah yang pernah kualami, dan kuharap tidak lagi terjadi. Jika terjadi lagi pendar perasaan itu, aku harap bisa menyimpannya hanya dalam hati agar disuatu saat nanti aku tidak menyesalinya jika hal tersebut ternyata hanya keinginan sesaat dan ego ingin mampu memiliki sejenak saja. Ada satu hal yang kuyakin akan kuketahui pasti mana cinta sungguhan, yang mana hanya keinginanku semata. Aku yakin aku akan berdebar karenanya. Mungkin ini klise bagi banyak orang, tapi aku masih percaya dengan datangnya debar itu suatu saat nanti.

Sehubungan dengan cinta yang malu-malu dan tak perlu diumbar-umbar, kemarin ada sebuah mini drama dari sebuah film kesukaanku sejak dulu, Ada Apa Dengan Cinta yang dipersembahkan oleh sebuah aplikasi kenamaan smartphone. Aku tak mungkin bohong bahwa aku sungguh terpesona dengan adanya mini drama itu. Terang saja, aktor dan aktrisnya adalah pemeran yang sama 12 tahun lalu di film kenamaan yang katanya mengubah nasib perfilman Indonesia kala itu. Dan tentu saja karena aku adalah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi penggemar tokoh Rangga, dan Nicholas Saputra (jangan lupa aku menjerit histeris sendirian sewaktu menontonnya kemarin). Tapi ada sisi lain dari perasaanku yang mengatakan bahwa itu menjadi tak lebih dari sekedar sebuah iklan bersponsor. Mengapa? Karena itu sungguh berbeda dari hayalan tingkat tinggiku selama ini. Telah terpatri di benakku bahwa kedua tokoh di film itu, yang jatuh cinta tanpa mengumbar-umbar dan dengan perasaan yang ragu dan malu-malu tanpa alat komunikasi yang canggih pada era itu, yang masih menggunakan sebuah telepon rumah untuk berkomunikasi dalam kondisi yang benar-benar dirasa perlu untuk digunakan (dan aku sangat mencintai kisah cinta yang tergambar dalam coretan di atas sebuah kertas-surat dan puisi cinta), mereka telah berbahagia setelah melewati satu purnama untuk bertemu kembali dan memulai semuanya. Akhir yang bahagia sudah digambarkan di dalam sebuah puisi yang diberikan Rangga kepada Cinta di akhir cerita. Tapi... dalam mini drama yang kutonton kemarin, digambarkan bahwa Rangga dan Cinta belum pernah bertemu lagi sekalipun dalam 12 tahun sejak Rangga pindah ke New York.

Maaf saja, aku adalah penggemar happily ever after ending stories. Aku sudah mengatakannya kemarin di sebuah media sosialku bahwa ide cerita yang disuguhkan dalam bentuk mini drama oleh perusahaan alplikasi kenamaan itu menghancurkan hayalan indahku tentang 'satu purnama' yang bahagia selama ini. Yah, itu menurut pendapatku. Sama halnya seperti novel The Giver yang baru selesai kubaca kemarin. Seorang teman bertanya, 'Jika ceritanya memang bagus, kenapa tidak dibuat saja sekuel atau triloginya?'. Ku katakan padanya, hal yang menakjubkan tidak akan terjadi dua kali. Perasaan membuncah bahagia terhisap ke dalam sebuah cerita tidak bisa direkayasa hanya karena tiba-tiba semua orang menyukai ceritanya. Cukup dengan satu novel itu dan dengan akhir yang masing-masing orang bisa menginterpretasikannya sendiri itulah yang membuatmu menikmatinya hingga titik.

Kau tak Akan Pernah Sadar

Maaf, aku tersadar.
Untungnya kamu belum tersadar.
Aku tersadar, kusebut saja kau dan aku-karena aku tak pantas menyebut kita-ternyata sungguh berbeda.
Untunglah kau tak pernah tahu aku pernah meragu karenamu.
Untunglah bibit perasaan itu baru hendak muncul.
Untunglah aku tidak sempat menggunakan perasaan hingga aku tak terlalu lemah terjatuh.
Namun apalah dia jika bukan secuil perasaan?
Aku kembali bersembunyi dalam ruang tunggu itu, dan merindu hingga semua yang kutunggu mewujud ‘kamu’.
Aku yakin janji ‘itu’.
Jika janji itu bukan kamu, semoga kau tak pernah tersadar akan aku.

--Kurangkum menjadi tulisan biasa dan singkat ini dari beberapa kisah dan perasaan orang-orang disekitarku beberapa hari ini. :)

Sabtu, 01 November 2014

Pesan untuk Tuan yang Entah di Mana

Hai kau tuan masa depanku
yang dari galaksi entah apa
yang masih juga tak kunjung tiba
yang masih juga entah dimana
Dimana kamu sekarang?

Aku punya pesan untukmu
Tidak banyak
Tak juga panjang lebar
Singkat saja
Izinkan aku meminta sedikit jawaban
Kuharap itu menenangkan
Izinkan aku meminta sedikit pengertian
Kuharap itu melegakan

Jika kau sudah tiba nanti
Beri aku sebuah tanda
Jangan hanya memanggil di depan pintu
Apalagi berbisik dari kejauhan
Ketuklah pintunya
Pintu putih yang dikotori banyak warna

Ketuklah lebih keras jika masih juga belum membuka
Mungkin aku belum mendengar jelas
Aku hanya takut kau terlalu bosan untuk menunggu,
meski sejenak sewaktu
Lalu kau putuskan untuk pergi
Mencari pintu lain yang aku entah tak tahu
Tersisa aku menanti waktu berlalu
Tergugu meragu sendiri satu
Tolong tenangkan aku.



Indralaya, Kamis, 30 Oktober 2014.

Minggu, 26 Oktober 2014

Danke, Aksara

Aku berterima kasih kepada aksara.
Ketika kata-kataku tak mampu kulengkingkan di hamparan jagad raya, aku menuliskannya kedalam kalimat-kalimat dari ruang antah-berantah yang kadang tak terjamah oleh praduga jalinan sinyal di pikiranmu.

F. F. K.

Minggu, 19 Oktober 2014

Kita Mahluk Malam

Kita mahluk malam,
yang takut akan kegelapan,
risau dengan jalan setapak di depan,
bingung bagaimana harus melangkah,
tapi harus terus berjalan.

Kita mahluk malam,
yang rindu sinaran tenang,
bermain dengan titik-titik harapan,
mencari cahaya penuntun jalan,
melangkah ragu dengan banyak pertanyaan.

Kita mahluk malam,
selalu terseok dalam kegelapan,
tetap bertahan di jalan yang panjang,
tersadar sebuah cahaya telah menuntun sejak permulaan,
tak perlu berharap pada siang.

Aku mahluk malam, kau juga mahluk malam,
ya, kita mahluk malam,
membicarakan siang dan malam,
ini sudah larut malam,
aku butuh tidur malam,
selamat malam.


F. F. K.

Jumat, 17 Oktober 2014

Ingin Menjadi Apa Setelah Dewasa?

Apa keinginan terbesarmu ketika masih kecil dulu? Entah dengan kebanyakan orang tapi aku sejujurnya punya banyak keinginan dan harapan.

Aku ingat sewaktu ditanya guru saat kecil dulu, "mau jadi apa kalo udah besar?", aku selalu tahu untuk menjawab "mau jadi insinyur", seperti mama. Karena sepertinya hanya itu satu-satunya hal mengenai cita-cita dan pekerjaan yang ada di dalam pikiranku saat dulu. Jika anak-anak yang lain berkeinginan menjadi dokter, aku ingat betul aku tidak pernah terucap untuk bercita-cita seperti mereka.
Atau jika harus memberikan jawaban lain, aku akan menjawab, " mau jadi seperti papa yang jadi sarjana hukum", karena aku tidak terlalu tahu pekerjaan apa yang bisa dijalani jika menjadi seorang sarjana hukum.

Kemudian aku mengubah cita-citaku ingin menjadi seorang ahli sejarah setelah aku cukup senang mempelajari sejarah. Tak lama tidak begitu berbeda dengan cita-cita sebelumnya, aku juga ingin menjadi seorang ahli paleontologi. Kau tahu, orang yang pekerjaannya senang mencari-cari dan membersihkan fosil atau tulang belulang mahluk masa lalu-begitu aku dulu menjelaskannya. Lalu aku merubah keinginanku untuk menjadi seorang penulis. Aku suka membaca, lalu berkhayal, dan terkadang menuliskannya dalam bentuk cerita yang monoton dan kalau diingat-ingat sekarang membuatku merasa malu sendiri dengan tingkah dan khayalan mainstream-ku dulu. Setelah sedikit lebih besar, aku punya keinginan untuk menjadi seorang arsitek. Sejak kecil aku sering melihat majalah-majalah arsitek yang menggambarkan desain dan ukuran rumah-rumah yg menurutku unik. Aku hanya ingin membuat rumah yang sesuai dengan keinginanku. Sewaktu hendak memutuskan untuk memilih jurusan kuliah, mama mengajakku berpikir ulang apakah daya otakku sanggup atau tidak dengan ilmu hitung dan ketelitan seorang arsitek, yang pada kenyataannya aku membenci ilmu hitung tingkat tinggi dan aku sangat ceroboh dalam hal 'pendetailan'. Pada akhirnya aku memilih jurusan ku yang sekarang...

Seperi lirik lagu soundtrack anime 'Minki Momo', "ingin menjadi apa setelah dewasa?". Aku kembali memilah-milih apa keinginanku. Aku masih ingin menikmati sejarah, aku ingin merancang sendiri rumahku nanti, aku juga ingin mempunyai rumah dengan halaman yang luas yang bisa ditumbuhi banyak pohon dan tanaman-tanaman lainnya untuk bisa kurawat dan kunikmati diwaktu senggang. Aku juga masih ingin menjadi seorang penulis, meskipun aku tidak punya khayalan hebat apapun untuk kutulis. Aku juga ingin menjadi berguna dengan menjadi seorang pengajar, meskipun aku masih memiliki banyak kekurangan dan ketidaktahuan.

Tapi kemudian terlebih, yang tiba-tiba terbersit disuatu ketika, dan kupikir tentunya ini menjadi keinginan, doa dan harapan perempuan semuanya, pada kenyataannya aku ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik dan mencukupi dunia akhirat untuk keluargaku nanti. Untuk mewujudkan itu, aku masih harus banyak berusaha dan belajar dengan ikhlas. Tentunya, aku sangat berharap akan ridho dunia akhirat dari imamku kelak, dan ini tentu keinginan yang sulit dari semua keinginanku. Suatu ketika aku berpikir tentang semua ini, dan mengambil kesimpulan, bagiku nanti, ridho suami itu sungguh cukup menjadi salah satu bekal untuk menghadap-Nya kelak, kan?

Senin, 06 Oktober 2014

Kau, Candu

Kaulah Anandamide itu.
Aku mencandumu.
Kaulah Endorphine itu.
Kau sumber canduku.

Tapi aku tak pernah jadi sumber candumu.
Apalagi mau kau candu.
Aku sudah tau!

(Sebenarnya ini sudah beberapa bulan tersimpan di draf) :)