Selasa, 13 Januari 2015

Dalam Hujan Aksara

Tidak ada yang tidak pernah menangis.
Semua kita menangis saat tersadar menghirup udara dunia yang pekat.
Tersadar harus berjuang hingga mengucap selamat kepada kematian.
Lalu, bagaimana dengan perempuan itu?
Dia juga sama.
Tidak ada perempuan yang tidak pernah menangis.
Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang anak pertama, sebagai seorang kakak pula, dan sebagai individu yang menanggung masing-masing beban, ketahuilah.
Tak mungkin ia tidak pernah menangis.
Mungkin dia memang terlihat tegar.
Mungkin dia terlihat kuat.
Terlebih kadang sikap apa adanya mengganggu dan nampak kasar.
Mungkin dia terlihat tabah.
Tapi, memang begitulah manusia.
Menyembunyikan hal-hal yang terkadang semua orang sudah mengetahuinya.
Mungkin dia memang tidak menangis dengan air mata.
Tapi sejujurnya, jika kau memang mengenal dan mengerti pribadinya, ketahuilah.
Dia sudah sangat sering menangis.
Bersembunyi dalam lebat hutan harapan.
Meski hanya dalam kata-kata. Dalam hujan aksara.

F. F. K.

Bye for Now (Maybe)

Hujan adalah salah satu sahabat terbaik para pujangga. Hujan juga merupakan teman terbaikku. Banyak kata-kata, juga kelebat hayalan ngawur yang terlintas kala milyaran titik air itu jatuh bebas ke bumi.

Hah... Itu tulisan waktu hujan tadi. Tapi karena saya hidup hanya mengandalkan wifi, jadilah tiga kalimat tersebut dipendam dulu, terhenti tiba-tiba. Fyuh, jadi lupa mau menulis apa di sini siang tadi. Padahal, momen hujan adalah momen terbaik bagi banyak orang yang suka menumpahruahkan pikiran-pikiran dan kata-kata (sok) puitis yang ada di dalam kepala mereka. Begitu juga aku, biasanya. Tapi siang tadi, ketika listrik seperti biasa dipadamkan di daerah kami jika hujan sudah membawa Pangeran Angin dan Raja Petir, maka kujadikan saja ia momen terbaik yang sudah cukup lama tidak kulakukan ketika ia hadir ataupun tidak. Tidur siang. Mendekapku erat dalam kesejukannya. Melupakan sejenak data skripsi yang sudah muak kulihat siang dan malam. Mengenyahkan sejenak pertanyaan ayah ibu--selalu saja mengurusi sidang teman-teman, kamu sendiri kapan?--yang cukup membingungkan. Yah, sekian saja. Mungkin kapan-kapan aku akan menepati janjiku pada diri sendiri, untuk membuat sebuah postingan yang mungkin berguna jika ada satu-dua pengelana aksara yang lewat dan mampir.

ARRIVEDERCI! AU REVOIR!
Maybe.

Sabtu, 10 Januari 2015

Sedikit Lebih Lagi

Jika dikatakan bisa menangis, tentu bisa kulakukan. Jika dikatakan ingin menangis, aku sudah sangat ingin. Tapi aku sudah terbiasa berkata tidak harus menangis pada diri sendiri meskipun aku sudah sangat ingin. Hingga pada titik ini aku malah sibuk mengutak-atik aksara di sini alih-alih menangis. Kadang aku lupa betapa leganya perasaan setelah menangis. Sejujurnya menangis itu menyehatkan, jika sesuai kondisi dan kebutuhannya. Saat menangis, manusia mengeluarkan zat-zat kimia yang tidak baik bagi tubuh sehingga timbul perasaan lega setelah berurai air mata. Aku kadang cukup malu untuk melakukan itu meskipun sendirian. Terlebih aku pernah berjanji untuk tidak lagi asal menangis atas hal-hal yang tidak perlu ditangisi. Imbasnya, aku menitikkan sangat sedikit air mata, atau bahkan ia hanya menggenang saja di pelupuk ketika ada hal-hal khusus yang bisa membuatku terharu. Imbasnya, ada banyak rasa tertumpuk dalam hati.

Mereka bilang perbedaan orang yang gagal dan orang yang berhasil hanyalah terletak pada niat dan sedikit usaha lebih. Orang yang berhasil adalah mereka, orang-orang yang hampir gagal tapi tetap terus bertahan dan sabar melangkah hingga tanpa disadari mereka sampai ke titik akhir satu perjalanan mereka. Aku? Aku adalah orang yang hampir gagal dan patah semangat, tapi masih terus berusaha untuk mengikuti jejak-jejak mereka yang sudah berhasil ke titik akhir sebuah perjalanan yang sama dan berulang-ulang ini. Dan aku masih tetap belum mau dan belum saatnya untuk menangis. Ada lebih banyak yang seharusnya lebih menangis daripada aku tapi mereka tetap bertahan.

Aku hanya harus sedikit lebih bersabar lagi. Sedikit lebih tekun lagi. Sedikit lebih berusaha lagi. Sedikit lebih semangat lagi. Sedikit lebih bertahan lagi. Sedikit lebih menguatkan dan menghibur diri sendiri lagi. Ya, sekarang cukup dengan rumus andalanku sendiri, sedikit lebih lagi. Lalu di akhirnya, aku akan sangat berterima kasih kepada Allah SWT. yang tetap setia menyelamatkan aku dari keputusasaan. Dan aku akan sangat berterima kasih kepada diriku sendiri, untuk mau tetap percaya, berharap, bertahan dan berusaha sedikit lebih lama lagi melihat titik keberhasilan dalam hidupku yang rasanya jauh di ujung jalan.

Dan semoga aku tetap bertahan untuk tidak menangisi hal yang seharusnya tidak terlalu sulit ini hingga tiba di akhirnya karena akan ada lebih banyak hal yang patut ditangisi dikemudian hari. Semoga.

Minggu, 04 Januari 2015

Untukmu, Ibu Dunia Akhiratku

Lima puluh tahun yang lalu, seorang bayi suci dilahirkan dari rahim seorang ibu.

Empat puluh delapan tahun yang lalu, kau belajar menjadi seorang kakak pertama.

Dua puluh enam tahun lalu, kau membanggakan kedua orang tuamu dengan menghadiahkan mereka gelar Insinyur mu sebagai seorang sarjana pertanian.

Dua puluh tiga tahun yang lalu, kau mulai kehidupan barumu sebagai seorang istri dan bersamanya berusaha membangun sebuah keluarga yang bahagia dan selalu di ridhoi-Nya.

Dua puluh dua tahun yang lalu, Ia melengkapi hidupmu, kewajiban dan tanggung jawabmu dengan menganugerahkan seorang bayi perempuan yang sangat kecil itu. Lalu kau berikan ia nama sebagai salah satu doa terindah yang kudengar, 'Seorang perempuan yang semoga mulia dan memuliakan keluarga bagai sebuah permata yang indah untuk Ibu dan Ayah'.

Enam belas tahun yang lalu, kau kembali dikaruniakan seorang putra yang tampan, setelah hampir meregang nyawa dan tetap berdiri tegar menahan kesakitan demi menjaga putra berusia satu minggu mu yang harus dimasukkan begitu banyak selang infus di ubun-ubunnya. Lalu kau berikan ia nama sebagai salah satu dari doa terindah lainnya yang kudengar, 'Sebuah permulaan untuk dan akan selalu diberkahi rezeki yang mulia dan semoga menjadi imam yang mengikuti tauladan Rasulullah Muhammad SAW'.

Setelah lima puluh tahun berlalu, begitu banyak cerita dan perjalanan, tipu daya zaman, pahit dan manis kehidupan yang telah kau lewati.

Lima puluh tahun telah berlalu, usiamu tak lagi muda, tenagamu tak lagi kuat, kulitmu mulai menua, meskipun kami tau betul otakmu sungguh masih sangat luar biasa pintarnya. Terkadang sedikit rambut putih itu ingin menguasaimu namun tak kuasa.

Lima puluh tahun usiamu kini, Ibu.
Maafkan aku yang belum bisa membanggakan mu dan ayah.
Maafkan aku yang masih belum bisa memberimu hadiah sebuah gelar sarjana itu di lima puluh tahunmu ini.
Maafkan aku yang masih belum bisa menjadi seorang anak yang cukup baik selama ini.
Maafkan aku yang masih sangat kekanakan di usia yang bukan anak-anak lagi kini.
Maafkan aku yang terlalu banyak salah kepadamu.
Maafkan kami yang masih sangat menyusahkanmu.
Maafkan kami yang takkan bisa membalas cinta dan pengorbanan suci dunia akhiratmu.
Selamat hari kelahiran, Ibu.
Selamat hari ibu terkhusus untukmu, Ibu.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kasih dan sayang, ridho dan perlindungan dunia akhirat atas kehidupanmu, Ibu.

Mungkin dengan tulisan, aku bisa lebih jujur dan lugas menyatakan.

Kami yang mencintaimu, Ibu ...

Minggu, 23 November 2014

Duapuluh Tiga yang ke Duapuluh Dua Kalinya

Apa harus aku menulis di sini? Aku ingin tahu ada berapa banyak orang yang menulis seperti ini pada hari ulang tahunnya, dan yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri seperti yang akan aku lakaukan sekarang.

Ya, menurut perhitungan dunia ini, umurku sekarang duapuluh dua tahun. Aku selalu terngiang lirik sebuah lagu yang selama beberapa bulan ini berulang kali siang malam kuputar. Liriknya berbunyi, "Umur bertambah, usia berkurang...". Liriknya singkat, cukup sederhana, tapi aku sangat suka, karena itu tepat dan sangat mengganggu pikiranku. Entahlah. Usiaku? Entah aku juga tak tahu. Tapi sebenarnya aku sudah cukup lama berumur duapuluh dua tahun ini. Aku menghitung-hitung dengan penanggalan Islam, yang setiap tahunnya maju sebelas hari lebih dulu dari perhitungan kalender matahari. Setelah ku kali perhitungan sebelas hari tersebut dengan jumlah 22 tahun yang sudah ada ini, yang artinya bernilai 242 hari, perhitungan kalender Islam menyimpulkan aku sudah berumur 22 tahun ini terhitung sejak 123 hari yang lalu (didapatkan dari hasil pengurangan jumlah hari dalam satu tahun, 365 hari, dengan 242 hari yang selisih).

Entah apa yang harus kutuliskan disini. Ini bukan pidato resmi di sebuah podium, ini hanya sebuah tulisan di sebuah hari ulang tahun. Sebuah tulisan yang ingin berucap syukur bahwa masih diberi kesempatan bertemu tanggal 23 untuk yang ke-22 kalinya. Mungkin aku akan bercerita saja. Sehari kemarin tanggal 22 November, sehari sebelum "secara resmi" (begitu kata mereka), tak banyak yang kulakukan. Sejak bangun pagi, aku sudah berniat untuk merapikan kamarku yang tidak terlalu beraturan akhir-akhir ini (mungkin hampir satu tahun ini sedikit berantakan tidak serapi biasanya kuakui), aku bergegas mengobrak-abrik isi kamarku dan merapikannya kembali setelah bahkan waktu Zuhur sudah berlalu. Sisa hari kuhabiskan menonton. Yah... Aku menonton Across the Universe, kemudian aku melanjutkan menonton Divergent, diikuti The Fault in Our Stars, dan kuakhiri tanggal 22 ini dengan From Up On Poppy Hill. Aku hanya ingin suatu saat nanti mengenang film-film yang secara acak terpilih untuk menemaniku selama satu hari kemarin. Tidak ada ide harus melakukan apa. Sekarang setelah koneksi internet cukup lancar, terdamparlah aku di sini.

Muncul pertanyaan sendiri, Apa yang kuinginkan?. Aku tak perlu lah menyebut segala doa dan harapanku di tulisan ini. Cukup aku dan Allah saja yang tahu. Tapi jika dipaksa harus menyebutkan satu, yang benar-benar menjadi prioritas hidupku yang sudah kujalani sejak hampir setahun ini adalah menyelasaikan tugas akhir sebagai mahasiswa. Kau tahu, banyak hal lucu dalam hidup ini. Kusebutkan satu contoh perbandingan. Ada orang yang dengan santai dan tak perdulinya mengerjakan atau tidak terlalu bersusah payah memikirkan tugas akhrinya tapi mereka dengan mudah dan cepatnya bisa lulus dari dunia kampus. Ada pula yang hampir satu tahun bersusah payah menjalaninya tanpa waktu untuk istirahat sejenak, tapi masih belum sampai waktunya untuk lulus. Itulah nasib. Itulah kehidupan. Kehidupanku, seperti contoh kedua. Dan permasalahan bukan hanya dariku. Jadi bagi mereka yang seenaknya menggangap enteng permasalahan ini, simpan saja kata-katamu jika kau bahkan tidak melihat kebenaran dengan jelas.

Well, whatever. Tidak banyak yang ingin kuceritakan di sini kali ini. Anyway...
Aku begitu menyukai November kali ini. Begitu juga November tahun lalu. Meskipun malam ini tidak diguyur hujan seperti 23 di tahun lalu. November kali ini dilimpahi rahmat hujan yang menyegarkan dan memberi keteduhan yang ditunggu-tunggu semua orang, setelah beberapa bulan sebelumnya dilanda kekeringan oleh musim kemarau yang cukup panjang.

Ya, pada akhirnya, kututup tulisan ini dengan Happy birthday to me! Yay! :)



Sumber gambar: Google.



Selasa, 18 November 2014

Aku Hanya Menerka(terka) Sabda

Disini lah aku, berteman rintihan hujan.
Malam-malam.
Dalam kamar temaram.
Sembari menunggu waktu.
Menanti kamu.
Menemukanku.
Kujalin saja rindu.
Untuk nanti dijahit dengan rindumu, ketika nanti bertemu.
Lalu pergi membawaku.
Bukan hanya hatiku.
Hey... Jangan jauh-jauh.
Ayah ibu nanti pasti rindu.

Ah...
Kulihat ayah ibu.
Sehari-hari tabah dan ikhlas menekur pada usaha menghidupi ragaku.
Menjagaku.
Berlimpah cinta kasih mereka untuk jiwaku.
Seketika aku tersadar.
Betapa mereka masih erat memelukku.
Belum rela jika secuil cinta yang kupunya ku bagi pula untukmu.
Maka kita sama tahu.
Mungkin memang belum sekarang saatnya kau mendatangiku.
Tapi entah seperti apa rencana-Mu.
Aku hanya menerka(terka) Sabda.

Lalu ingin kuintip rencana-Mu.
Tentulah aku tak mampu.
Kupilih sebuah senyum dari setumpuk hadiah pemberian-Mu.
Kubisikkan pada Tuhan.
"Kau lah yang Mahapengatur segala rentak irama kehidupan"
Ya...
Mungkin begitu.
Cukup begitu dulu.


F. F. K.

Pesona Hujan

Bermainlah bersama hujan,
Nikmati jatuhnya,
Rasakan rintihannya,
Cium dan rengkuh,
Dan kau akan merasakan ‘memiliki’ dan ‘kehilangan’,
dalam satu kedipan.
Begitulah pesona hujan.


F. F. K.