Rabu, 27 Mei 2015

Rancangan Pesta Kecil Pernikahanku

Pernikahan.
Kata itu tidak lagi tabu seiring bertambahnya umur, dan semakin hari semakin menggaung dan menggema di dalam kepalaku. Bukan apa-apa, hanya saja seperti kata orang bilang, "bukan hal yang aneh lagi kalau kau sudah memikirkan tentang pernikahan di umur sekarang."

Tapi tentu perkara yang satu ini tidak bisa asal terlaksana, kan? Islam sendiri mengajarkan bahwa yang terutama dari sebuah pernikahan adalah Akad nikahnya, ijab dan qabulnya. Untuk bisa sampai pada terlaksananya akad nikah dan ijab qabul tadi tentu hati sudah benar-benar dimantapkan dan dipersiapkan untuk memenuhi sunnah Rasul satu ini. Diajarkan pula untuk mengumumkan pernikahan ini kepada sanak saudara, tetangga dan kerabat agar tidak timbul fitnah dan kesalahpahaman dikemudian hari ketika dua insan tersebut berada di bawah satu atap. Mengumumkan pernikahan ini adalah dengan mengadakan pesta atau resepsi.

Jika ditanya konsep pernikahan apa yang aku inginkan, tentunya akan kujawab konsep pernikahan yang Islami, dengan pakaian yang syar'i dan tidak berlebih-lebihan. Aku sering membayangkan, pada akad-ku nanti, aku ingin mengenakan kebaya putih dengan detail-detail yang aku suka. Aku ingin kebaya putihku menjadi kebaya tercantik yang aku punya. Dengan hijab putih gading yang menutup hingga bawah dada, yang kemudian disematkan pula kerudung putih panjang yang aku bayangkan aku akan terlihat cantik seperti putri-putri dengan tambahan juntaian kerudung itu.
Aku ingin kesederhanaan dalam paduan warna putih nan suci itu saat akad nikahku nanti.

Lalu jika ditanya akan bagaimanakah pula konsep resepsi pernikahan yang aku inginkan?
Ada begitu banyak konsep pernikahan berkeliaran dalam bayang dan hayalku, yang ingin kutiru dan ingin kuwujudkan.

Pertama-tama, kuputuskan untuk mengundang orang-orang, kerabat, sahabat, teman-teman dan kolega yang memang benar-benar bersentuhan langsung dan konsisten dalam kehidupan selama ini. Tidak perlu banyak orang tapi tak ku kenal, tidak perlu pula mengundang orang-orang penting dan besar yang mungkin tak terlalu ku kenal hanya untuk membuat pesta pernikahanku menjadi terlihat prestisius.

Konsep yang kuinginkan adalah pesta outdoor, dengan payung-payung besar terpasang dimeja untuk melindungi tamu-tamuku dari terik matahari. Aku ingin suasana kebersamaan diruang terbuka di taman, di bawah bayang-bayang pepohonan tinggi sehingga tempatnya cukup rindang. Ditambah suara siul burung-burung kecil yang menambah suasana damai saat acara makan berlangsung. Aku ingin meja-meja atau kursi tamuku yang kuharap bertema kayu-kayuan berhiaskan untaian bunga-bunga kecil nan cantik sebagai pemanis pemandangan.

Konsep kedua sebagai antisipasi bilamana hujan kemungkinan turun dihari pesta pernikahanku nanti, aku merencanakan konsep pernikahan di dalam gedung dengan tetap bertemakan alam, pepohonan, dedaunan dan bunga-bungaan. Aku ingin ada pohon buatan yang berbunga penuh di dalam ruang tempat resepsi dan di dekat meja-meja makan tamuku. Aku ingin cahaya lilin yang menggantung memenuhi ruangan. Aku ingin semua tertata dan terencana dengan cantik dan romantis.

Yah, pada intinya aku ingin konsep pernikahan yang cantik, anggun dan romantis seperti dalam cerita-cerita novel yang banyak kubaca, atau film-film yang kutonton.




Sabtu, 02 Mei 2015

Selepas Maghrib

Sejak dulu aku suka berlari.
Berlari yang jauh, atau berlari cepat.
Sampai sekarang pun juga.
Bahkan di dalam rumah,
aku sering berlari.
Berlari dari kamarku menuju pintu depan.
Berlari, ketika terdengar gesekan besi pagar rumah yang terdorong membuka.
Berlari, untuk membukakan pintu rumah bagi kedua lelaki itu.
Ayah dan adikku,
selepas maghrib,
yang kembali dari shalat berjamaah di masjid.

Kuharap aku masih akan diberi nikmat itu,
nikmat untuk bisa berlari di masa nanti, untukmu
lelaki dunia-akhiratku.
Berlari setelah menunggumu pulang,
berlari dari entah bagian mana rumah kita,
dengan air wudhu yang mungkin sudah setengah mengering di wajah,
atau mungkin baru hendak membasuhnya ketika terdengar salam darimu,
selepas maghrib itu.

F. F. K.

Minggu, 26 April 2015

Bahagia itu Milik'mu'

Aku tak tahu siapa yang lebih sering menertawakan siapa.
Dunia yang menertawakanku,
ataukah aku yang menertawakan dunia?

Karena terkadang aku merasa aku lah yang lebih sering menertawakan dunia,
bahkan ketika aku mengetahui sesuatu hal yang sangat kecil,
yang simpel,
yang sepertinya tidak akan berarti apa-apa pada orang lain.
Tapi pada kenyataanya, aku tertawa.

Ya! Aku menertawakannya.
Aku menertawakan hal kecil yang ditunjukkan dunia kepadaku.
Dan aku menyukainya.
Menyukai perasaan bahagia itu.
Bahagia yang hanya untukku.
Bahagia hingga rasanya ingin menangis.
Meski tidak penting bagi orang lain.

F. F. K.

Jumat, 20 Maret 2015

Kasihan Matahari...

Aku tidak ingat apakah aku pernah menuliskan banyak hal tentang bulan.
Ataukah tentang bintang-bintang malam.
Atau tentang langit biru cerah, dan awan putih yang menyelimuti.
Atau tentang hujan dan gemuruh yang menemaninya.
Aku belum menuliskan banyak hal, tentunya.
Tapi aku ingat. Aku pernah menuliskan tentang matahari.
Tulisan singkat yang terlupakan.

Kita sering mengeluh kepanasan.
Mencari-cari kesalahan matahari.
Sering kita marah karena keringat yang bercucuran.
Lalu kembali menyalahkan matahari.
Kita kesal karena teriknya pancaran sinar matahari pada suatu hari.
Lagi-lagi memaki matahari.

Kasihan matahari.
Apa yang salah dengannya?
Kenapa orang-orang memaki dirinya, membenci panasnya.
Lihatlah.
Terkadang dia hanya singgah sebentar.
Mengajak langit dan awan bermain-main menghabiskan waktu.
Lalu awan meninggalkannya.
Hanya bermain sendirian di kemahaan langit yang biru luas.
Langit tak mampu menahan teriknya.
Lalu orang-orang mulai menyalahkan matahari karena teriknya yang amat.

Atau terkadang sebaliknya.
Awan, dan orang-orang menyuruh matahari untuk pergi.
Awan seketika datang berarak mengusir matahari.
Dan beberapa orang mulai menggumam agar matahari segera menurut saja pergi.

Lalu matahari menjadi sedih.
Ia pergi.
Meninggalkan orang-orang yang bergembira bersama turunnya rintik-rintik hujan dari langit.

Hei, lalu titik-titik hujan itu miliknya siapa?
Bukankah matahari yang bersedih kepada langit, awan dan orang-orang?

F. F. K.

Selasa, 03 Maret 2015

A Friend is Still A Friend 'till The End

Bismillahirrahmannirrahim

Teman. Terkadang kita menggolongkannya berdasarkan waktu kita mengenal mereka. Kita menyebutnya sebagai teman TK, teman SD, SMP, SMA, dan--yah yang masih aku jalani sampai sekarang meskipun hanya tertinggal dua lagi temanku yang belum lulus, atau malah satu, karena sebentar lagi si Apri bakal sidang bulan ini--, teman kuliah. :)

Salah seorang temanku yang sudah lulus kuliah lebih dulu dan termasuk dua yang paling pertama di antara kami, yang sama-sama pergi-pulang kuliah Palembang-Indralaya, si Kiki, menuliskan sebuah postingan di beranda Line miliknya yang entah kali ini dia kesambet arwah penulis siapa, karena ini adalah salah satu postingan terpanjang darinya yang pernah kutahu. Aku akan menulis ulang tulisannya tersebut di sini, mungkin hanya sedikit editan saja tapi aku tidak akan mengubah gaya penulisannya karena itulah ciri khas dirinya yang bahkan ketika kita belum pernah bertemu langsung dengannya pun kita akan tahu 'begitulah' dia. Tapi mungkin saat bertemu kalian akan berpikir, "Bagaimana bisa orang dengan suara tipe ini pernah jadi penyiar radio di sekolahnya dulu?" (Langsung dihajar Kikoy). But she's the kocak one. Daya pikatnya ada di caranya berkomunikasi langsung dan blak-blakan dengan orang lain.

Mungkin orang Palembang saja yang akan mudah mengerti tulisan berikut ini. :D
Dan, beginilah postingannya...

"Rindu. Beneran rindu samo Rahma, Jola, Vera, Ayu, Apri, Lusi, Ariska, Tami, Siti (include Ledy & Dwi yang baleknyo ke ulu sedangke kami ke ilir). Balek kuliah sore, biarpun menges tapi selalu ado bae selo buat pacak ketawo ladas di terminal.

Rahma: Si mentel hobi masak yang dak biso seharipun idak bejajan. Nyingok bakso bakar, nak beli. Nyingok somay, nak beli. Nyingok gorengan, nak beli. Pernah bae sekali beli somay lupo ngambek sosoknyo.

Jola: Tino ini hobi fotograp biarpun caknyo dak tereksplor. Banyak tau perkembangan film. Dari sebanyak-banyak kawan aku, dio inilah yang nandak bedandan. Mantan (Kalimat yang tepat di sini saya sensor saja, haha). Biar agak selengekan, Jola ini kawan aku yang paling keren. (Ok, I have no idea).

Vera: Dari awal masok kuliah sampe dio pake toga, gaya rambutnyo dak ngubah. Mak itu mak tu lah. Pendek sebahu, poni dora. Kalem, manis. Pernah ado cerito naksir samo budak *pip* (sebuah prodi yang disensor namanya) di awal semester 1, dan baru tau kalo peciannyo tadi jugo naksir Vera di akhir vera nak lulus. Naas.

Ayu: Kawan aku yang paling kreatif. Hobi bikin craft. Ini cewek yg telaten, teliti, rapi, sederhana & pinter. Punyo pacar kawan sekelas aku tula (Ehm, mamas Tuwuh nya kami). Dio ini samo Jola la pecak pasar palimo, Ayu pasarnyo, Jola palimo nyo (abaikan perumpamaan ini). (Well, it seems like she's our leader).

Apri: Yang ini paling manis diantara kami. Kalem, dak pulo banyak bunyi (cak aku) --di bagian Kiki ngomong ini, aku mingkem. Pinter, teliti, punyo adek belagak tapi sayang mase kecik. Dio ini paling diandalke soal rebutan bangku bus, 'Prik, tempati sepoloh ikok prik!!!' (dan yuk Apri pasti bisa mendapatkannya sodara-sodara eventhough she seems like the elegant one! Hahaha).

Lusi: Ini dio kawan seperjuangan skripsi aku, kawan wisuda. Uwong Padang asli idak pake ragu. Nian aku dak bohong. Punyo pacar kawan sekelas aku tula jugo (Kuplek, he's the kindest guy and boy friend I've ever had. And he become my bro, too, like mas Tuwuh). Aku menghabiskan napas terakhir aku di kampus dengen dio inilah *Lebay? Biarlah*

Ariska: Yang ini... Ya Allah. Maapkenla. Dio ini yang paling sering aku samo Rahma bully (tapi ini bukan bully seperti di berita dan film-film itu ya). Tapi dio diem bae tiap di bully, yang ado malah ketawo, terimo nasep. Punyo kakak pecian si Rahma tadi (Cuma seru-seruan kami sebenernya). Punyo hubungan absurd samo rahma yang tak terjemahkan samo uwong awam. (Karena mas nya Ariska adalah mas yang kece dan masih 'available' sampe postingan ini di buat. Hahaha).

Tami: No many words to describe. Tapi yang aku tau dio ini ambisius, pinter, rada cuek samo peradaban sekitar. Hobi dewekan. Tapi mase kategori baek lah. (Nah, she's my partner in my final task).

Ledy: Sikok ini partner in crime aku. Cocok nian men soal watak. Diajak waras payo, diajak gilo jadi. Paling montok, bohay, sekseh. Duplikatnyo Syahrini (ulalaaa~) tapi mudah bingsal, sekalinyo bingsal seluruh jagad raya hancur lebur dibuatnyo. Tanyola Rahma men dak cayo.

Dwi: Badannyo paling kecik diantara kami, tapi bakal duluan yang nak nikah. Paling diandalke soal kendaraan, soalnyo dio yang ado mobil (jangan bayangke kalo dio bawak bus Layo. Dio cuma bawak mobil pribadi). Paling awet kalo pacaran. Teliti, jadi andalan dosen. Imut, cantik, bersih, pecak batu akik baru diasah. (Hahaha di sini aku dak abis pikir samo pemikiran Kiki).

Siti: Sikok ini keturunan Tinghoa , tapi muslim. Bejilbab pulok. Kawan aku nian waktu bikin skripsi. Kecik, lincah pecak belalang. Lompat sano lompat sini, singgonyo gesit nian geraknyo. Paling getol kalo nyari duet. Tapi aku salut nian, mungkin dio ini la kawan aku yang paling berjuang buat kuliahnyo. (Menurut aku jugo, dio hebat biso terus kuliah dengan sebagian besar biaya dari hasil usaha dio dewek).

Gimme hugs, guys. Miss u till suck!"

Aku masih terus berpikir dari dulu, kalau dia rajin menulis kismis (kisah-kisah miris) kami seperti ini, mungkin dia akan benar-benar berteman dengan Raditya Dika dan menjadi gadis terkocak sejagad Indonesia!

Nah, what if I don't miss you like you do? Oke ini ngaco bener. How can I not miss you and others after all the good, the bad and the hardest times during our study in college? Oh I miss you all guys, too!!! Nah, can you all just take me out from this skripsweet and live in your 'new life', too? :D




Jumat, 30 Januari 2015

Aku Bukan Fatimah, Apalagi Menjadi Khadijah

Karena aku (dan akhlakku) tidak bisa menjadi seperti Khadijah sehingga mampu dan yakin meminang seorang Muhammad (SAW), maka aku memilih menunggu saja seperti Fatimah yang dipinang Ali. Meskipun mendekati sepertinya saja aku bagai seekor kupu-kupu yang berharap terbang melintas awan setinggi elang.

Bahkan Rasulullah SAW sendiri sudah ditunjukkan bersama Jibril bahwa yang banyak menempati neraka adalah kaum perempuan. Aku sendiri hina, tidak seperti perempuan tersuci Maryam, bukan seorang Asiyah, bukan pula Fatimah, apalagi menjadi seorang Khadijah. Aku tak seperti keempat perempuan pilihan penghuni surga itu. Sungguh jauh. Karenanyalah tentu kami selalu berharap bertemu engkau yang lebih baik akhlaknya diantara yang terbaik, yang bisa menuntun kami menjadi perempuan yang layak bahkan dari mencium baunya surga hingga ikut layak tinggal di dalamnya. Bukan yang hanya jalan ditempat berputar dan ikut berkubang dengan kesenangan sesaat dunia.

F. F. K.

Jumat, 16 Januari 2015

Selasa, 13 Januari 2015

Dalam Hujan Aksara

Tidak ada yang tidak pernah menangis.
Semua kita menangis saat tersadar menghirup udara dunia yang pekat.
Tersadar harus berjuang hingga mengucap selamat kepada kematian.
Lalu, bagaimana dengan perempuan itu?
Dia juga sama.
Tidak ada perempuan yang tidak pernah menangis.
Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang anak pertama, sebagai seorang kakak pula, dan sebagai individu yang menanggung masing-masing beban, ketahuilah.
Tak mungkin ia tidak pernah menangis.
Mungkin dia memang terlihat tegar.
Mungkin dia terlihat kuat.
Terlebih kadang sikap apa adanya mengganggu dan nampak kasar.
Mungkin dia terlihat tabah.
Tapi, memang begitulah manusia.
Menyembunyikan hal-hal yang terkadang semua orang sudah mengetahuinya.
Mungkin dia memang tidak menangis dengan air mata.
Tapi sejujurnya, jika kau memang mengenal dan mengerti pribadinya, ketahuilah.
Dia sudah sangat sering menangis.
Bersembunyi dalam lebat hutan harapan.
Meski hanya dalam kata-kata. Dalam hujan aksara.

F. F. K.

Bye for Now (Maybe)

Hujan adalah salah satu sahabat terbaik para pujangga. Hujan juga merupakan teman terbaikku. Banyak kata-kata, juga kelebat hayalan ngawur yang terlintas kala milyaran titik air itu jatuh bebas ke bumi.

Hah... Itu tulisan waktu hujan tadi. Tapi karena saya hidup hanya mengandalkan wifi, jadilah tiga kalimat tersebut dipendam dulu, terhenti tiba-tiba. Fyuh, jadi lupa mau menulis apa di sini siang tadi. Padahal, momen hujan adalah momen terbaik bagi banyak orang yang suka menumpahruahkan pikiran-pikiran dan kata-kata (sok) puitis yang ada di dalam kepala mereka. Begitu juga aku, biasanya. Tapi siang tadi, ketika listrik seperti biasa dipadamkan di daerah kami jika hujan sudah membawa Pangeran Angin dan Raja Petir, maka kujadikan saja ia momen terbaik yang sudah cukup lama tidak kulakukan ketika ia hadir ataupun tidak. Tidur siang. Mendekapku erat dalam kesejukannya. Melupakan sejenak data skripsi yang sudah muak kulihat siang dan malam. Mengenyahkan sejenak pertanyaan ayah ibu--selalu saja mengurusi sidang teman-teman, kamu sendiri kapan?--yang cukup membingungkan. Yah, sekian saja. Mungkin kapan-kapan aku akan menepati janjiku pada diri sendiri, untuk membuat sebuah postingan yang mungkin berguna jika ada satu-dua pengelana aksara yang lewat dan mampir.

ARRIVEDERCI! AU REVOIR!
Maybe.

Sabtu, 10 Januari 2015

Sedikit Lebih Lagi

Jika dikatakan bisa menangis, tentu bisa kulakukan. Jika dikatakan ingin menangis, aku sudah sangat ingin. Tapi aku sudah terbiasa berkata tidak harus menangis pada diri sendiri meskipun aku sudah sangat ingin. Hingga pada titik ini aku malah sibuk mengutak-atik aksara di sini alih-alih menangis. Kadang aku lupa betapa leganya perasaan setelah menangis. Sejujurnya menangis itu menyehatkan, jika sesuai kondisi dan kebutuhannya. Saat menangis, manusia mengeluarkan zat-zat kimia yang tidak baik bagi tubuh sehingga timbul perasaan lega setelah berurai air mata. Aku kadang cukup malu untuk melakukan itu meskipun sendirian. Terlebih aku pernah berjanji untuk tidak lagi asal menangis atas hal-hal yang tidak perlu ditangisi. Imbasnya, aku menitikkan sangat sedikit air mata, atau bahkan ia hanya menggenang saja di pelupuk ketika ada hal-hal khusus yang bisa membuatku terharu. Imbasnya, ada banyak rasa tertumpuk dalam hati.

Mereka bilang perbedaan orang yang gagal dan orang yang berhasil hanyalah terletak pada niat dan sedikit usaha lebih. Orang yang berhasil adalah mereka, orang-orang yang hampir gagal tapi tetap terus bertahan dan sabar melangkah hingga tanpa disadari mereka sampai ke titik akhir satu perjalanan mereka. Aku? Aku adalah orang yang hampir gagal dan patah semangat, tapi masih terus berusaha untuk mengikuti jejak-jejak mereka yang sudah berhasil ke titik akhir sebuah perjalanan yang sama dan berulang-ulang ini. Dan aku masih tetap belum mau dan belum saatnya untuk menangis. Ada lebih banyak yang seharusnya lebih menangis daripada aku tapi mereka tetap bertahan.

Aku hanya harus sedikit lebih bersabar lagi. Sedikit lebih tekun lagi. Sedikit lebih berusaha lagi. Sedikit lebih semangat lagi. Sedikit lebih bertahan lagi. Sedikit lebih menguatkan dan menghibur diri sendiri lagi. Ya, sekarang cukup dengan rumus andalanku sendiri, sedikit lebih lagi. Lalu di akhirnya, aku akan sangat berterima kasih kepada Allah SWT. yang tetap setia menyelamatkan aku dari keputusasaan. Dan aku akan sangat berterima kasih kepada diriku sendiri, untuk mau tetap percaya, berharap, bertahan dan berusaha sedikit lebih lama lagi melihat titik keberhasilan dalam hidupku yang rasanya jauh di ujung jalan.

Dan semoga aku tetap bertahan untuk tidak menangisi hal yang seharusnya tidak terlalu sulit ini hingga tiba di akhirnya karena akan ada lebih banyak hal yang patut ditangisi dikemudian hari. Semoga.

Minggu, 04 Januari 2015

Untukmu, Ibu Dunia Akhiratku

Lima puluh tahun yang lalu, seorang bayi suci dilahirkan dari rahim seorang ibu.

Empat puluh delapan tahun yang lalu, kau belajar menjadi seorang kakak pertama.

Dua puluh enam tahun lalu, kau membanggakan kedua orang tuamu dengan menghadiahkan mereka gelar Insinyur mu sebagai seorang sarjana pertanian.

Dua puluh tiga tahun yang lalu, kau mulai kehidupan barumu sebagai seorang istri dan bersamanya berusaha membangun sebuah keluarga yang bahagia dan selalu di ridhoi-Nya.

Dua puluh dua tahun yang lalu, Ia melengkapi hidupmu, kewajiban dan tanggung jawabmu dengan menganugerahkan seorang bayi perempuan yang sangat kecil itu. Lalu kau berikan ia nama sebagai salah satu doa terindah yang kudengar, 'Seorang perempuan yang semoga mulia dan memuliakan keluarga bagai sebuah permata yang indah untuk Ibu dan Ayah'.

Enam belas tahun yang lalu, kau kembali dikaruniakan seorang putra yang tampan, setelah hampir meregang nyawa dan tetap berdiri tegar menahan kesakitan demi menjaga putra berusia satu minggu mu yang harus dimasukkan begitu banyak selang infus di ubun-ubunnya. Lalu kau berikan ia nama sebagai salah satu dari doa terindah lainnya yang kudengar, 'Sebuah permulaan untuk dan akan selalu diberkahi rezeki yang mulia dan semoga menjadi imam yang mengikuti tauladan Rasulullah Muhammad SAW'.

Setelah lima puluh tahun berlalu, begitu banyak cerita dan perjalanan, tipu daya zaman, pahit dan manis kehidupan yang telah kau lewati.

Lima puluh tahun telah berlalu, usiamu tak lagi muda, tenagamu tak lagi kuat, kulitmu mulai menua, meskipun kami tau betul otakmu sungguh masih sangat luar biasa pintarnya. Terkadang sedikit rambut putih itu ingin menguasaimu namun tak kuasa.

Lima puluh tahun usiamu kini, Ibu.
Maafkan aku yang belum bisa membanggakan mu dan ayah.
Maafkan aku yang masih belum bisa memberimu hadiah sebuah gelar sarjana itu di lima puluh tahunmu ini.
Maafkan aku yang masih belum bisa menjadi seorang anak yang cukup baik selama ini.
Maafkan aku yang masih sangat kekanakan di usia yang bukan anak-anak lagi kini.
Maafkan aku yang terlalu banyak salah kepadamu.
Maafkan kami yang masih sangat menyusahkanmu.
Maafkan kami yang takkan bisa membalas cinta dan pengorbanan suci dunia akhiratmu.
Selamat hari kelahiran, Ibu.
Selamat hari ibu terkhusus untukmu, Ibu.
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kasih dan sayang, ridho dan perlindungan dunia akhirat atas kehidupanmu, Ibu.

Mungkin dengan tulisan, aku bisa lebih jujur dan lugas menyatakan.

Kami yang mencintaimu, Ibu ...

Minggu, 23 November 2014

Duapuluh Tiga yang ke Duapuluh Dua Kalinya

Apa harus aku menulis di sini? Aku ingin tahu ada berapa banyak orang yang menulis seperti ini pada hari ulang tahunnya, dan yang mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri seperti yang akan aku lakaukan sekarang.

Ya, menurut perhitungan dunia ini, umurku sekarang duapuluh dua tahun. Aku selalu terngiang lirik sebuah lagu yang selama beberapa bulan ini berulang kali siang malam kuputar. Liriknya berbunyi, "Umur bertambah, usia berkurang...". Liriknya singkat, cukup sederhana, tapi aku sangat suka, karena itu tepat dan sangat mengganggu pikiranku. Entahlah. Usiaku? Entah aku juga tak tahu. Tapi sebenarnya aku sudah cukup lama berumur duapuluh dua tahun ini. Aku menghitung-hitung dengan penanggalan Islam, yang setiap tahunnya maju sebelas hari lebih dulu dari perhitungan kalender matahari. Setelah ku kali perhitungan sebelas hari tersebut dengan jumlah 22 tahun yang sudah ada ini, yang artinya bernilai 242 hari, perhitungan kalender Islam menyimpulkan aku sudah berumur 22 tahun ini terhitung sejak 123 hari yang lalu (didapatkan dari hasil pengurangan jumlah hari dalam satu tahun, 365 hari, dengan 242 hari yang selisih).

Entah apa yang harus kutuliskan disini. Ini bukan pidato resmi di sebuah podium, ini hanya sebuah tulisan di sebuah hari ulang tahun. Sebuah tulisan yang ingin berucap syukur bahwa masih diberi kesempatan bertemu tanggal 23 untuk yang ke-22 kalinya. Mungkin aku akan bercerita saja. Sehari kemarin tanggal 22 November, sehari sebelum "secara resmi" (begitu kata mereka), tak banyak yang kulakukan. Sejak bangun pagi, aku sudah berniat untuk merapikan kamarku yang tidak terlalu beraturan akhir-akhir ini (mungkin hampir satu tahun ini sedikit berantakan tidak serapi biasanya kuakui), aku bergegas mengobrak-abrik isi kamarku dan merapikannya kembali setelah bahkan waktu Zuhur sudah berlalu. Sisa hari kuhabiskan menonton. Yah... Aku menonton Across the Universe, kemudian aku melanjutkan menonton Divergent, diikuti The Fault in Our Stars, dan kuakhiri tanggal 22 ini dengan From Up On Poppy Hill. Aku hanya ingin suatu saat nanti mengenang film-film yang secara acak terpilih untuk menemaniku selama satu hari kemarin. Tidak ada ide harus melakukan apa. Sekarang setelah koneksi internet cukup lancar, terdamparlah aku di sini.

Muncul pertanyaan sendiri, Apa yang kuinginkan?. Aku tak perlu lah menyebut segala doa dan harapanku di tulisan ini. Cukup aku dan Allah saja yang tahu. Tapi jika dipaksa harus menyebutkan satu, yang benar-benar menjadi prioritas hidupku yang sudah kujalani sejak hampir setahun ini adalah menyelasaikan tugas akhir sebagai mahasiswa. Kau tahu, banyak hal lucu dalam hidup ini. Kusebutkan satu contoh perbandingan. Ada orang yang dengan santai dan tak perdulinya mengerjakan atau tidak terlalu bersusah payah memikirkan tugas akhrinya tapi mereka dengan mudah dan cepatnya bisa lulus dari dunia kampus. Ada pula yang hampir satu tahun bersusah payah menjalaninya tanpa waktu untuk istirahat sejenak, tapi masih belum sampai waktunya untuk lulus. Itulah nasib. Itulah kehidupan. Kehidupanku, seperti contoh kedua. Dan permasalahan bukan hanya dariku. Jadi bagi mereka yang seenaknya menggangap enteng permasalahan ini, simpan saja kata-katamu jika kau bahkan tidak melihat kebenaran dengan jelas.

Well, whatever. Tidak banyak yang ingin kuceritakan di sini kali ini. Anyway...
Aku begitu menyukai November kali ini. Begitu juga November tahun lalu. Meskipun malam ini tidak diguyur hujan seperti 23 di tahun lalu. November kali ini dilimpahi rahmat hujan yang menyegarkan dan memberi keteduhan yang ditunggu-tunggu semua orang, setelah beberapa bulan sebelumnya dilanda kekeringan oleh musim kemarau yang cukup panjang.

Ya, pada akhirnya, kututup tulisan ini dengan Happy birthday to me! Yay! :)



Sumber gambar: Google.



Selasa, 18 November 2014

Aku Hanya Menerka(terka) Sabda

Disini lah aku, berteman rintihan hujan.
Malam-malam.
Dalam kamar temaram.
Sembari menunggu waktu.
Menanti kamu.
Menemukanku.
Kujalin saja rindu.
Untuk nanti dijahit dengan rindumu, ketika nanti bertemu.
Lalu pergi membawaku.
Bukan hanya hatiku.
Hey... Jangan jauh-jauh.
Ayah ibu nanti pasti rindu.

Ah...
Kulihat ayah ibu.
Sehari-hari tabah dan ikhlas menekur pada usaha menghidupi ragaku.
Menjagaku.
Berlimpah cinta kasih mereka untuk jiwaku.
Seketika aku tersadar.
Betapa mereka masih erat memelukku.
Belum rela jika secuil cinta yang kupunya ku bagi pula untukmu.
Maka kita sama tahu.
Mungkin memang belum sekarang saatnya kau mendatangiku.
Tapi entah seperti apa rencana-Mu.
Aku hanya menerka(terka) Sabda.

Lalu ingin kuintip rencana-Mu.
Tentulah aku tak mampu.
Kupilih sebuah senyum dari setumpuk hadiah pemberian-Mu.
Kubisikkan pada Tuhan.
"Kau lah yang Mahapengatur segala rentak irama kehidupan"
Ya...
Mungkin begitu.
Cukup begitu dulu.


F. F. K.

Pesona Hujan

Bermainlah bersama hujan,
Nikmati jatuhnya,
Rasakan rintihannya,
Cium dan rengkuh,
Dan kau akan merasakan ‘memiliki’ dan ‘kehilangan’,
dalam satu kedipan.
Begitulah pesona hujan.


F. F. K.

Senin, 17 November 2014

Siul Tiup Lilin

Aku selalu berkata kepada diri sendiri. Banyak hal baik dan membahagiakan yang terjadi di setiap harinya yang bisa kita syukuri. Beberapa hari menjelang yang kaum manusia sebut sebagai hari-ulang-tahun, yaitu hari ini, aku memulai hari seperti biasa. Kejadian pagi tadi sudah kuceritakan. Lepas Zuhur aku beranjak pulang. Tidak ada yang istimewa. Sama seperti hari-hari lainnya, hari-hari yang biasa dengan banyak hal luar biasa yang selalu membuatku merasa menjadi salah seorang yang harusnya bersyukur masih diberi kehidupan yang luar biasa.

Biasanya aku butuh dua trayek angkutan umum agar aku bisa sampai ke rumah. Di angkutan kedua aku duduk di bangku yang menghadap berlawanan dengan punggung sang sopir, di pinggir pintu masuk, setelah sebelumnya mampir ke sebuah supermarket untuk membeli sesuatu. Tak begitu jauh berjalan, naiklah seorang anak laki-laki berseragam sekolah menengah atas yang kemudian duduk di sampingku. Aku tak kenal dia, begitupun dia tak kenal aku. Mungkin dia satu tingkatan sekolah sama seperti adikku. Kemudian tak lama setelah mobil kembali berjalan, dia bersiul. Inilah yang membuatku tiba-tiba tersenyum seorang diri. Dia menyiulkan sebuah irama lagu ulang tahun, atau mungkin lebih tepatnya jika dinyanyikan, siulannya bernyanyi untuk liriknya yang seperti ini: "Tiup lilinnya, tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga..." Aku terkadang tak bisa menahannya untuk mengekspresikan apa yang tiba-tiba kurasakan. Jadi ketika dia bersiul lagu tersebut, aku tiba-tiba tersenyum dan ingin tertawa karena seketika aku teringat, "Haha, sebentar lagi hari ulang tahunku. Apakah ini termasuk salah satu hadiah kejutan dari semesta sebagai penghiburan untukku?"

Ya, aku tidak ingin mengistimewakan hari itu. Terkadang sesuatu yang kita anggap istimewa akan membawa kekecewaan yang lebih dari sesuatu yang kita anggap biasa, jika kita terlalu mengharapkannya. Jadi aku akan menganggapnya sebagai sebuah hari yang biasa saja seperti hari-hari biasa lainnya, namun membawa banyak hal yang luar biasa disetiap akhir harinya. Bukankah pada dasarnya memang ia hanyalah sebuah hari biasa lainnya? Karena setiap detik aku bernapas, setiap detik pula hidupku berubah. Tak perlu menunggu hitungan hingga hari itu, kan? :)

Minggu, 09 November 2014

Seharusnya Cinta Baik-Baik Saja

Aku lebih suka kisah cinta yang mana para lakonnya tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta namun sesungguhnya kita semua bisa tahu dengan melihat ke kedalaman mata para lakon bahwa terdapat gelegak-gelegak perasaan hangat, cinta, dan kasih sayang yang tak bisa ditutupi oleh kabut dan kegelapan sekalipun. Tak terucapkan sekalipun namun mereka saling tahu dan tentu semua tahu ada suatu harapan dan keindahan perasaan diantara kedua cucu adam dan hawa tersebut. Bukankah itu indah? Hah, aku bahkan sampai hampir menitikkan air mata membayangkannya. Menurutku, hal seperti itu lebih indah ketimbang mereka yang saling melempar dan mengumbar kata cinta dan sayangnya hanya untuk dilihat orang bahwa mereka 'merasa' sudah siap untuk saling memiliki, padahal kenyataannya mereka sedang asyik memantapkan diri sendiri apakah benar seyakin itu menyukai dan menyayangi 'pasangan'nya.

Seperti kata seorang penulis, Tere Liye, yang mengatakan 'apakah mungkin sesuka itu?'. Jujur saja, aku mengiyakan dalam hati perkataan itu karena begitulah yang pernah kualami, dan kuharap tidak lagi terjadi. Jika terjadi lagi pendar perasaan itu, aku harap bisa menyimpannya hanya dalam hati agar disuatu saat nanti aku tidak menyesalinya jika hal tersebut ternyata hanya keinginan sesaat dan ego ingin mampu memiliki sejenak saja. Ada satu hal yang kuyakin akan kuketahui pasti mana cinta sungguhan, yang mana hanya keinginanku semata. Aku yakin aku akan berdebar karenanya. Mungkin ini klise bagi banyak orang, tapi aku masih percaya dengan datangnya debar itu suatu saat nanti.

Sehubungan dengan cinta yang malu-malu dan tak perlu diumbar-umbar, kemarin ada sebuah mini drama dari sebuah film kesukaanku sejak dulu, Ada Apa Dengan Cinta yang dipersembahkan oleh sebuah aplikasi kenamaan smartphone. Aku tak mungkin bohong bahwa aku sungguh terpesona dengan adanya mini drama itu. Terang saja, aktor dan aktrisnya adalah pemeran yang sama 12 tahun lalu di film kenamaan yang katanya mengubah nasib perfilman Indonesia kala itu. Dan tentu saja karena aku adalah satu dari sekian banyak perempuan yang menjadi penggemar tokoh Rangga, dan Nicholas Saputra (jangan lupa aku menjerit histeris sendirian sewaktu menontonnya kemarin). Tapi ada sisi lain dari perasaanku yang mengatakan bahwa itu menjadi tak lebih dari sekedar sebuah iklan bersponsor. Mengapa? Karena itu sungguh berbeda dari hayalan tingkat tinggiku selama ini. Telah terpatri di benakku bahwa kedua tokoh di film itu, yang jatuh cinta tanpa mengumbar-umbar dan dengan perasaan yang ragu dan malu-malu tanpa alat komunikasi yang canggih pada era itu, yang masih menggunakan sebuah telepon rumah untuk berkomunikasi dalam kondisi yang benar-benar dirasa perlu untuk digunakan (dan aku sangat mencintai kisah cinta yang tergambar dalam coretan di atas sebuah kertas-surat dan puisi cinta), mereka telah berbahagia setelah melewati satu purnama untuk bertemu kembali dan memulai semuanya. Akhir yang bahagia sudah digambarkan di dalam sebuah puisi yang diberikan Rangga kepada Cinta di akhir cerita. Tapi... dalam mini drama yang kutonton kemarin, digambarkan bahwa Rangga dan Cinta belum pernah bertemu lagi sekalipun dalam 12 tahun sejak Rangga pindah ke New York.

Maaf saja, aku adalah penggemar happily ever after ending stories. Aku sudah mengatakannya kemarin di sebuah media sosialku bahwa ide cerita yang disuguhkan dalam bentuk mini drama oleh perusahaan alplikasi kenamaan itu menghancurkan hayalan indahku tentang 'satu purnama' yang bahagia selama ini. Yah, itu menurut pendapatku. Sama halnya seperti novel The Giver yang baru selesai kubaca kemarin. Seorang teman bertanya, 'Jika ceritanya memang bagus, kenapa tidak dibuat saja sekuel atau triloginya?'. Ku katakan padanya, hal yang menakjubkan tidak akan terjadi dua kali. Perasaan membuncah bahagia terhisap ke dalam sebuah cerita tidak bisa direkayasa hanya karena tiba-tiba semua orang menyukai ceritanya. Cukup dengan satu novel itu dan dengan akhir yang masing-masing orang bisa menginterpretasikannya sendiri itulah yang membuatmu menikmatinya hingga titik.

Kau tak Akan Pernah Sadar

Maaf, aku tersadar.
Untungnya kamu belum tersadar.
Aku tersadar, kusebut saja kau dan aku-karena aku tak pantas menyebut kita-ternyata sungguh berbeda.
Untunglah kau tak pernah tahu aku pernah meragu karenamu.
Untunglah bibit perasaan itu baru hendak muncul.
Untunglah aku tidak sempat menggunakan perasaan hingga aku tak terlalu lemah terjatuh.
Namun apalah dia jika bukan secuil perasaan?
Aku kembali bersembunyi dalam ruang tunggu itu, dan merindu hingga semua yang kutunggu mewujud ‘kamu’.
Aku yakin janji ‘itu’.
Jika janji itu bukan kamu, semoga kau tak pernah tersadar akan aku.

--Kurangkum menjadi tulisan biasa dan singkat ini dari beberapa kisah dan perasaan orang-orang disekitarku beberapa hari ini. :)

Sabtu, 01 November 2014

Pesan untuk Tuan yang Entah di Mana

Hai kau tuan masa depanku
yang dari galaksi entah apa
yang masih juga tak kunjung tiba
yang masih juga entah dimana
Dimana kamu sekarang?

Aku punya pesan untukmu
Tidak banyak
Tak juga panjang lebar
Singkat saja
Izinkan aku meminta sedikit jawaban
Kuharap itu menenangkan
Izinkan aku meminta sedikit pengertian
Kuharap itu melegakan

Jika kau sudah tiba nanti
Beri aku sebuah tanda
Jangan hanya memanggil di depan pintu
Apalagi berbisik dari kejauhan
Ketuklah pintunya
Pintu putih yang dikotori banyak warna

Ketuklah lebih keras jika masih juga belum membuka
Mungkin aku belum mendengar jelas
Aku hanya takut kau terlalu bosan untuk menunggu,
meski sejenak sewaktu
Lalu kau putuskan untuk pergi
Mencari pintu lain yang aku entah tak tahu
Tersisa aku menanti waktu berlalu
Tergugu meragu sendiri satu
Tolong tenangkan aku.



Indralaya, Kamis, 30 Oktober 2014.

Minggu, 26 Oktober 2014

Danke, Aksara

Aku berterima kasih kepada aksara.
Ketika kata-kataku tak mampu kulengkingkan di hamparan jagad raya, aku menuliskannya kedalam kalimat-kalimat dari ruang antah-berantah yang kadang tak terjamah oleh praduga jalinan sinyal di pikiranmu.

F. F. K.

Minggu, 19 Oktober 2014

Kita Mahluk Malam

Kita mahluk malam,
yang takut akan kegelapan,
risau dengan jalan setapak di depan,
bingung bagaimana harus melangkah,
tapi harus terus berjalan.

Kita mahluk malam,
yang rindu sinaran tenang,
bermain dengan titik-titik harapan,
mencari cahaya penuntun jalan,
melangkah ragu dengan banyak pertanyaan.

Kita mahluk malam,
selalu terseok dalam kegelapan,
tetap bertahan di jalan yang panjang,
tersadar sebuah cahaya telah menuntun sejak permulaan,
tak perlu berharap pada siang.

Aku mahluk malam, kau juga mahluk malam,
ya, kita mahluk malam,
membicarakan siang dan malam,
ini sudah larut malam,
aku butuh tidur malam,
selamat malam.


F. F. K.