Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Maret 2015

A Friend is Still A Friend 'till The End

Bismillahirrahmannirrahim

Teman. Terkadang kita menggolongkannya berdasarkan waktu kita mengenal mereka. Kita menyebutnya sebagai teman TK, teman SD, SMP, SMA, dan--yah yang masih aku jalani sampai sekarang meskipun hanya tertinggal dua lagi temanku yang belum lulus, atau malah satu, karena sebentar lagi si Apri bakal sidang bulan ini--, teman kuliah. :)

Salah seorang temanku yang sudah lulus kuliah lebih dulu dan termasuk dua yang paling pertama di antara kami, yang sama-sama pergi-pulang kuliah Palembang-Indralaya, si Kiki, menuliskan sebuah postingan di beranda Line miliknya yang entah kali ini dia kesambet arwah penulis siapa, karena ini adalah salah satu postingan terpanjang darinya yang pernah kutahu. Aku akan menulis ulang tulisannya tersebut di sini, mungkin hanya sedikit editan saja tapi aku tidak akan mengubah gaya penulisannya karena itulah ciri khas dirinya yang bahkan ketika kita belum pernah bertemu langsung dengannya pun kita akan tahu 'begitulah' dia. Tapi mungkin saat bertemu kalian akan berpikir, "Bagaimana bisa orang dengan suara tipe ini pernah jadi penyiar radio di sekolahnya dulu?" (Langsung dihajar Kikoy). But she's the kocak one. Daya pikatnya ada di caranya berkomunikasi langsung dan blak-blakan dengan orang lain.

Mungkin orang Palembang saja yang akan mudah mengerti tulisan berikut ini. :D
Dan, beginilah postingannya...

"Rindu. Beneran rindu samo Rahma, Jola, Vera, Ayu, Apri, Lusi, Ariska, Tami, Siti (include Ledy & Dwi yang baleknyo ke ulu sedangke kami ke ilir). Balek kuliah sore, biarpun menges tapi selalu ado bae selo buat pacak ketawo ladas di terminal.

Rahma: Si mentel hobi masak yang dak biso seharipun idak bejajan. Nyingok bakso bakar, nak beli. Nyingok somay, nak beli. Nyingok gorengan, nak beli. Pernah bae sekali beli somay lupo ngambek sosoknyo.

Jola: Tino ini hobi fotograp biarpun caknyo dak tereksplor. Banyak tau perkembangan film. Dari sebanyak-banyak kawan aku, dio inilah yang nandak bedandan. Mantan (Kalimat yang tepat di sini saya sensor saja, haha). Biar agak selengekan, Jola ini kawan aku yang paling keren. (Ok, I have no idea).

Vera: Dari awal masok kuliah sampe dio pake toga, gaya rambutnyo dak ngubah. Mak itu mak tu lah. Pendek sebahu, poni dora. Kalem, manis. Pernah ado cerito naksir samo budak *pip* (sebuah prodi yang disensor namanya) di awal semester 1, dan baru tau kalo peciannyo tadi jugo naksir Vera di akhir vera nak lulus. Naas.

Ayu: Kawan aku yang paling kreatif. Hobi bikin craft. Ini cewek yg telaten, teliti, rapi, sederhana & pinter. Punyo pacar kawan sekelas aku tula (Ehm, mamas Tuwuh nya kami). Dio ini samo Jola la pecak pasar palimo, Ayu pasarnyo, Jola palimo nyo (abaikan perumpamaan ini). (Well, it seems like she's our leader).

Apri: Yang ini paling manis diantara kami. Kalem, dak pulo banyak bunyi (cak aku) --di bagian Kiki ngomong ini, aku mingkem. Pinter, teliti, punyo adek belagak tapi sayang mase kecik. Dio ini paling diandalke soal rebutan bangku bus, 'Prik, tempati sepoloh ikok prik!!!' (dan yuk Apri pasti bisa mendapatkannya sodara-sodara eventhough she seems like the elegant one! Hahaha).

Lusi: Ini dio kawan seperjuangan skripsi aku, kawan wisuda. Uwong Padang asli idak pake ragu. Nian aku dak bohong. Punyo pacar kawan sekelas aku tula jugo (Kuplek, he's the kindest guy and boy friend I've ever had. And he become my bro, too, like mas Tuwuh). Aku menghabiskan napas terakhir aku di kampus dengen dio inilah *Lebay? Biarlah*

Ariska: Yang ini... Ya Allah. Maapkenla. Dio ini yang paling sering aku samo Rahma bully (tapi ini bukan bully seperti di berita dan film-film itu ya). Tapi dio diem bae tiap di bully, yang ado malah ketawo, terimo nasep. Punyo kakak pecian si Rahma tadi (Cuma seru-seruan kami sebenernya). Punyo hubungan absurd samo rahma yang tak terjemahkan samo uwong awam. (Karena mas nya Ariska adalah mas yang kece dan masih 'available' sampe postingan ini di buat. Hahaha).

Tami: No many words to describe. Tapi yang aku tau dio ini ambisius, pinter, rada cuek samo peradaban sekitar. Hobi dewekan. Tapi mase kategori baek lah. (Nah, she's my partner in my final task).

Ledy: Sikok ini partner in crime aku. Cocok nian men soal watak. Diajak waras payo, diajak gilo jadi. Paling montok, bohay, sekseh. Duplikatnyo Syahrini (ulalaaa~) tapi mudah bingsal, sekalinyo bingsal seluruh jagad raya hancur lebur dibuatnyo. Tanyola Rahma men dak cayo.

Dwi: Badannyo paling kecik diantara kami, tapi bakal duluan yang nak nikah. Paling diandalke soal kendaraan, soalnyo dio yang ado mobil (jangan bayangke kalo dio bawak bus Layo. Dio cuma bawak mobil pribadi). Paling awet kalo pacaran. Teliti, jadi andalan dosen. Imut, cantik, bersih, pecak batu akik baru diasah. (Hahaha di sini aku dak abis pikir samo pemikiran Kiki).

Siti: Sikok ini keturunan Tinghoa , tapi muslim. Bejilbab pulok. Kawan aku nian waktu bikin skripsi. Kecik, lincah pecak belalang. Lompat sano lompat sini, singgonyo gesit nian geraknyo. Paling getol kalo nyari duet. Tapi aku salut nian, mungkin dio ini la kawan aku yang paling berjuang buat kuliahnyo. (Menurut aku jugo, dio hebat biso terus kuliah dengan sebagian besar biaya dari hasil usaha dio dewek).

Gimme hugs, guys. Miss u till suck!"

Aku masih terus berpikir dari dulu, kalau dia rajin menulis kismis (kisah-kisah miris) kami seperti ini, mungkin dia akan benar-benar berteman dengan Raditya Dika dan menjadi gadis terkocak sejagad Indonesia!

Nah, what if I don't miss you like you do? Oke ini ngaco bener. How can I not miss you and others after all the good, the bad and the hardest times during our study in college? Oh I miss you all guys, too!!! Nah, can you all just take me out from this skripsweet and live in your 'new life', too? :D




Kamis, 10 April 2014

Tik Tok; Sebuah Cerita Kita

Hanya sekedar ingin berbagi keindahan yang kulihat beberapa hari yang lalu. Sebelumnya aku pernah meminta izin untuk ikut pergi mendaki Gunung Dempo ini. Meskipun aku sudah sampai menangis-nangis kepada orang tuaku, mereka tetap tidak mengizinkan aku. Lalu sekitar dua minggu yang lalu, sahabatku akan melakukan survey penelitiannya ke Gunung Dempo ini. Dia menawarkan dan meminta bantuanku untuk menjadi salah seorang yang menemaninya mengunjungi ketinggian itu. Apa kalian ingat bagaimana ceritaku tentang seorang gadis biasa yang memendam impian untuk bisa mengunjungi tempat-tempat tinggi yang magis nan indah itu? Ya, akhirnya ia bisa mewujudkannya, meskipun tidak sampai ke puncaknya. Pada Jumat, 4 April beberapa hari yang lalu akhirnya aku diizinkan orang tuaku untuk pergi bersama ketujuh temanku yang lainnya untuk memiliki salah satu pengalaman hidup yang selama ini kuimpikan. Kami berangkat dengan bus sore dan tiba di Pagaralam pada malam harinya pukul 01.45 wib esok harinya.

Aku akhirnya pergi menapaki ketinggian itu bersama beberapa teman sekelasku; ayuk Ayu, mamas Tuwuh, ceceu Dwi, bang Zamal, Kiki, Kuplek, dan Dedek. Saat menunggu jemputan bus Telaga Biru di depan kampusku, aku merasa bahagia sekaligus cemas. Kurasa itu wajar saja, mengingat tempat yang akan kami datangi adalah tempat yang cukup jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota, dan jauh dari orang tua. Terlebih lagi, itu adalah salah satu perjalanan impianku yang akan segera terwujud. Benar saja, saat tiba di Kota Pagaralam, kami tak henti-hentinya memuji dan mengagungkan kebesaran Allah akan ciptaannya. Sungguh, aku lebih mencintai keindahan dari ketinggian Gunung Dempo yang daerah kami miliki dibandingkan dengan Puncak Pass yang pernah kami datangi dulu. Aku merasa lebih takjub dengan keindahan liuk-liuk jajaran kebun teh dan gumpalan awan ataupun kabut sejauh mata memandang. Kami menumpang truk pengangkut pekerja pemetik teh untuk mencapai kampung 4. Dari sana setelah beristirahat dan mendatangi rumah ketua RT, kami lalu mendaki sampai ke Pintu Rimba. Aku sudah sangat merasa puas walau hanya sampai di situ tujuan kami. Kami berjalan pulang keesokan harinya setelah berkemah satu malam di resort kampung 4 di ketinggian 1575 mdpl, dan diguyur hujan sepanjang sore hingga keesokan paginya. Kami putuskan berjalan turun dengan melewati kebun-kebun teh hingga akhirnya kami takjub dengan jarak perjalanan yang telah mampu kami tempuh. Ada beberapa foto yang ingin kubagi dengan kalian dari awal perjalanan hingga perjalanan pulang. Beberapa juga adalah gambar lumut yang menjadi pencarian utama kami kesana. Beberapa adalah hasil ketakjuban ku dengan keindahan alam dan bunga-bunga yang ada. Beberapa adalah kami yang menikmati betapa indahnya tempat yang kami kunjungi itu. Meski sesungguhnya keindahan yang dilihat secara langsung lebih memuaskan hati. Berharap nanti bisa menikmatinya lagi. :)

Sebelum berangkat.

Keesokan harinya, suasana pagi itu.

Negeri di atas awan.







Bukit barisan di kejauhan.

Say hi guys!

Salah satu hasil fotoku yang disukai orang.

Ini juga lumut.




Setelah bersusah payah ingin ke Pintu Rimba.

Entah jenis lumut apa, tapi bulir air sisa embun pagi itu mempercantiknya.
Salah satu hasil fotoku yang kusuka.




Kiki, ceceu Dwi, aku, dan ayuk Ayu.


Berkemah bersama teman dari sebuah universitas swasta di kota kami.



Persiapan kembali ke kampung 4.

Ayu dan bunga balerina. Bunga yang pernah menjadi gambar profil pertama kali blog ini. :)

Say goodbye to this beautiful place.

Perjalanan menuruni perkebunan teh.





Mamas Tuwuh yang lagi istirahat.



Bunga yang ada di sekitar area vila.



Jumat, 07 Maret 2014

Melewati Salah Satu Gerbang Kehidupan Itu

Jika melihat dunia dan kehidupannya di masa seperti sekarang,
Lagi-lagi aku berpikir, alangkah masih kanaknya aku.
Lagi-lagi aku berpikir, alangkah masih tak-tahu-apa-apa nya diriku ini.
Lagi-lagi aku berpkir, alangkah tak ada apa-apanya hadirku ini.

Aku baru saja membaca sebuah blog kenalan baruku yang kini jelas kutahu pemikirannya jelas sedewasa sikapnya, dan raut wajahnya.
Yah, cukup untuk membuat sudut mataku basah, walau hanya segenang kecil, seperti biasanya.

Lalu, aku tiba-tiba menjadi bersyukur dengan diriku sendiri meski dengan segala dosa yang masing-masing orang miliki.
Jika mengenang ke masa yang telah lalu, aku kini bersyukur.
Aku sungguh-sungguh bersyukur, aku masih tetap aku yang utuh.
Masih tetap seorang gadis yang utuh, tanpa 'lecet' dengan perilaku tak etis 'ini' dan 'itu'.
Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kehidupan dengan orang-orang yang masih tau bagaimana seharusnya menghargai aku dan diriku sehingga mereka secara tak langsung berusaha menjauhkanku dari hal-hal seperti itu.
Aku kembali bersyukur aku tetaplah aku yang teguh pada pendirianku.
Aku bersyukur telah dituntun oleh Tuhan dan berhasil melewati salah satu gerbang yang sulit dilewati oleh kebanyakan perempuan, gadis remaja zaman sekarang.
Aku berharap dan berdoa semoga aku akan terus bertahan menjadi 'aku' yang 'utuh' hingga tiba pada ikrar suci dihadapan-Nya suatu hari nanti.

Rabu, 09 Oktober 2013

Pasrah

Lama kurasa sepinya hati
Tanpa dirimu
Lama kurasa rindu yang dalam
Menyiksa jiwaku
Lamanya daku kian menahan
Resah gelisah
Yang selama ini selalu saja
Datang menggoda

Dua purnama tanpa terasa
Berlalu sudah
Namun tiada pernah kudengar
Kabarmu oh sayang
Mungkin dirimu telah bersama
Dengan yang lain
Hingga diriku begitu saja
Engkau lupakan

Dimana lagi, kemana lagi
Harus kucari tempat untuk bertanya
Anginpun tiada, burungpun tiada
Semua tiada bawa berita
Kalau begini, terus begini
Aku tak tahu bagaimanakah lagi
Biarlah semua akan kupasrahkan
padaNya Illahi..


(Ermy Kulit)

Selasa, 30 Juli 2013

Pemilik Kenangan, Pembuat Bayangan

Apakah dengan pergi ke suatu tempat baru yang jauh, jauh dari semua yang pernah ada dalam perjalanan kehidupan, akan menghilangkan semua kenangan yang pernah ada?
Tidak. Aku rasa tidak.
Jika memang bisa begitu, maka aku ingin.
Sayangnya, aku yakin, hal seperti itu hanya akan menambah memori tentang kenangan-kenangan lainnya lagi.
Kenangan-kenangan yang ditinggalkan sebelum pergi sejauh-jauh tempat tadi...
Tempat berlari dan bersembunyi tadi...
Lalu waktu akan menghapusnya, menghapus janji-janji lalu itu...
Menghapus bayangan-bayangan sedih itu...
Menghapus pemilik kenangan-kenangan itu...