Jumat, 07 Maret 2014

Biar Hanya Tuhan yang Tau

Kalau kamu datang, aku berjanji tidak akan bertanya
"hati mana saja yang sudah kau lewati sampai disini?"
Kalau kamu datang,
tolong jangan pergi...
Aku lelah menjaga pintu!
Kalau kamu datang,
aku tenang...
Sadgenic - Rahne Putri

Ya. Aku juga menginginkan hal seperti itu. Aku mungkin belum terlalu lelah menjaga pintu jika dibandingkan dengan orang-orang lainnya.
Hanya saja aku lelah mengharapmu.
Aku lelah mengharap kau yang aku sendiri tak tahu akan bermuara kemana perasaanku selama ini.
Biar saja tidak ada yang tahu pernah ada sebuah perasaan indah yang ku bungkus rapi dan ku hias dengan cantik di dalam peti perasaan di salah satu sudut itu.
Biar hanya Tuhan yang tahu.

Melewati Salah Satu Gerbang Kehidupan Itu

Jika melihat dunia dan kehidupannya di masa seperti sekarang,
Lagi-lagi aku berpikir, alangkah masih kanaknya aku.
Lagi-lagi aku berpikir, alangkah masih tak-tahu-apa-apa nya diriku ini.
Lagi-lagi aku berpkir, alangkah tak ada apa-apanya hadirku ini.

Aku baru saja membaca sebuah blog kenalan baruku yang kini jelas kutahu pemikirannya jelas sedewasa sikapnya, dan raut wajahnya.
Yah, cukup untuk membuat sudut mataku basah, walau hanya segenang kecil, seperti biasanya.

Lalu, aku tiba-tiba menjadi bersyukur dengan diriku sendiri meski dengan segala dosa yang masing-masing orang miliki.
Jika mengenang ke masa yang telah lalu, aku kini bersyukur.
Aku sungguh-sungguh bersyukur, aku masih tetap aku yang utuh.
Masih tetap seorang gadis yang utuh, tanpa 'lecet' dengan perilaku tak etis 'ini' dan 'itu'.
Aku bersyukur Tuhan masih memberiku kehidupan dengan orang-orang yang masih tau bagaimana seharusnya menghargai aku dan diriku sehingga mereka secara tak langsung berusaha menjauhkanku dari hal-hal seperti itu.
Aku kembali bersyukur aku tetaplah aku yang teguh pada pendirianku.
Aku bersyukur telah dituntun oleh Tuhan dan berhasil melewati salah satu gerbang yang sulit dilewati oleh kebanyakan perempuan, gadis remaja zaman sekarang.
Aku berharap dan berdoa semoga aku akan terus bertahan menjadi 'aku' yang 'utuh' hingga tiba pada ikrar suci dihadapan-Nya suatu hari nanti.

Sabtu, 22 Februari 2014

Tarian Takjim Perasaan


Mencintai dalam diam adalah seperti menari takjim sendirian di antara kabut pagi di sebuah padang rumput yang megah dan indah. Dan meski tidak tersampaikan, tidak terucapkan, demi menjaga kehormatan perasaan, kita selalu tahu itu sungguh tetap sebuah tarian cinta.

Semoga besok lusa bisa menari bersama dalam ikatan yang direstui agama, dicatat oleh negara. 

Sabtu, 15 Februari 2014

T.T

Hampir runtuh semangat!

don't ever let me down God. If You should, then please get me up higher than before, after all of this difficulty...
karena pada akhirnya, titik air itu mengintip di sudut mataku untuk sesaat, malam ini...


aku (memang) hanyalah manusia biasa. hatiku tak sekeras baja, apalagi sekokoh hati manusia-manusia pilihan.
tawaku kadang sebuah usaha untuk terus bertahan, dan senyumku kadang memudar...
maka kumohon, teruslah tuntun aku, Tuhan.

Jumat, 14 Februari 2014

Ingin

Aku bermimpi saat ku tertidur
Dalam mimpiku engkau menanyakan
Apa yang kuinginkan kini.

Ku pun bermimpi saat ku tertidur
Dalam mimpiku engkau menanyakan
Yang ingin ku lakukan kini.

Tapi lalu kuterbangun
Tanpa sempat ku menjawab
Kini kucari dirimu
‘tuk jawab pertanyaanmu semalam...

Kuhanya ingin menari denganmu
Di tengah bintang dilangit dan awan
Tanpa perlu bermimpi lagi...

Kini kutau yang kau mau
Hanya disisimu s’lalu
Bergandengan dua hati
Dan bahagia sampai akhir nanti.


Aku Bukan Pangeranmu

Dari sudut mata kulihat laju langkah kakimu, tuju dinding hati
Yang kan kau coba tembus dengan jari mimpi-mimpimu
Yg t’lah berlalu dan tak berlaku
Dan kini kau ingin orang yang dapat menjagamu selalu,
Untuk selamanya...

Aku bukan dan tak akan pernah jadi sang pangeranmu
Aku bukan dan tak akan pernah mau jadi pangeranmu

Hidup ini telah lama buat mataku terbuka, kini ku mengerti
Bahwa segala cinta yang pernah ada di hati,
Kan melemahkan dan menghancurkan
Dan kini kau ingin dengan mudahnya
Merobohkan dindingku yang berjasa…

Dipertempuran, terus melangkah...
Karna kau bukan yang ku inginkan...



Kamis, 06 Februari 2014

Ketika Bumi Mengharap Langit

Kita berasal dari tempat yang berbeda.
Aku dari bumi,
kau dari langit.
Kau mahluk langit, yang jauh tak bisa ku gapai.
Aku mahluk bumi.
Aku selalu mendongak mencarimu,
kau tak juga melihatku.
Bahkan mungkin kau tak pernah tau ada aku.
Seandainya saja kau mahluk bumi,
diantara milyaran mahluk agung perusak dunia ini,
aku pasti akan mampu mendatangimu,
untuk menegurmu,
lalu bercengkrama denganmu...
Sungguh tak pantas.
Namun kau adalah mahluk dari langit
rasanya kau begitu jauh,
seolah jarak kita sengaja dibuat terpisah jutaan tahun cahaya oleh Pemilik Semesta
untuk menjalani kehidupan masing-masing di tempat yang jauh berbeda.
Dan setelah selama ini,
bertahun-tahun ini,
lalu akan bagaimana akhirnya?
Kita berasal dari tempat yang berbeda.