Minggu, 26 April 2015

Bahagia itu Milik'mu'

Aku tak tahu siapa yang lebih sering menertawakan siapa.
Dunia yang menertawakanku,
ataukah aku yang menertawakan dunia?

Karena terkadang aku merasa aku lah yang lebih sering menertawakan dunia,
bahkan ketika aku mengetahui sesuatu hal yang sangat kecil,
yang simpel,
yang sepertinya tidak akan berarti apa-apa pada orang lain.
Tapi pada kenyataanya, aku tertawa.

Ya! Aku menertawakannya.
Aku menertawakan hal kecil yang ditunjukkan dunia kepadaku.
Dan aku menyukainya.
Menyukai perasaan bahagia itu.
Bahagia yang hanya untukku.
Bahagia hingga rasanya ingin menangis.
Meski tidak penting bagi orang lain.

F. F. K.

Jumat, 20 Maret 2015

Kasihan Matahari...

Aku tidak ingat apakah aku pernah menuliskan banyak hal tentang bulan.
Ataukah tentang bintang-bintang malam.
Atau tentang langit biru cerah, dan awan putih yang menyelimuti.
Atau tentang hujan dan gemuruh yang menemaninya.
Aku belum menuliskan banyak hal, tentunya.
Tapi aku ingat. Aku pernah menuliskan tentang matahari.
Tulisan singkat yang terlupakan.

Kita sering mengeluh kepanasan.
Mencari-cari kesalahan matahari.
Sering kita marah karena keringat yang bercucuran.
Lalu kembali menyalahkan matahari.
Kita kesal karena teriknya pancaran sinar matahari pada suatu hari.
Lagi-lagi memaki matahari.

Kasihan matahari.
Apa yang salah dengannya?
Kenapa orang-orang memaki dirinya, membenci panasnya.
Lihatlah.
Terkadang dia hanya singgah sebentar.
Mengajak langit dan awan bermain-main menghabiskan waktu.
Lalu awan meninggalkannya.
Hanya bermain sendirian di kemahaan langit yang biru luas.
Langit tak mampu menahan teriknya.
Lalu orang-orang mulai menyalahkan matahari karena teriknya yang amat.

Atau terkadang sebaliknya.
Awan, dan orang-orang menyuruh matahari untuk pergi.
Awan seketika datang berarak mengusir matahari.
Dan beberapa orang mulai menggumam agar matahari segera menurut saja pergi.

Lalu matahari menjadi sedih.
Ia pergi.
Meninggalkan orang-orang yang bergembira bersama turunnya rintik-rintik hujan dari langit.

Hei, lalu titik-titik hujan itu miliknya siapa?
Bukankah matahari yang bersedih kepada langit, awan dan orang-orang?

F. F. K.

Selasa, 03 Maret 2015

A Friend is Still A Friend 'till The End

Bismillahirrahmannirrahim

Teman. Terkadang kita menggolongkannya berdasarkan waktu kita mengenal mereka. Kita menyebutnya sebagai teman TK, teman SD, SMP, SMA, dan--yah yang masih aku jalani sampai sekarang meskipun hanya tertinggal dua lagi temanku yang belum lulus, atau malah satu, karena sebentar lagi si Apri bakal sidang bulan ini--, teman kuliah. :)

Salah seorang temanku yang sudah lulus kuliah lebih dulu dan termasuk dua yang paling pertama di antara kami, yang sama-sama pergi-pulang kuliah Palembang-Indralaya, si Kiki, menuliskan sebuah postingan di beranda Line miliknya yang entah kali ini dia kesambet arwah penulis siapa, karena ini adalah salah satu postingan terpanjang darinya yang pernah kutahu. Aku akan menulis ulang tulisannya tersebut di sini, mungkin hanya sedikit editan saja tapi aku tidak akan mengubah gaya penulisannya karena itulah ciri khas dirinya yang bahkan ketika kita belum pernah bertemu langsung dengannya pun kita akan tahu 'begitulah' dia. Tapi mungkin saat bertemu kalian akan berpikir, "Bagaimana bisa orang dengan suara tipe ini pernah jadi penyiar radio di sekolahnya dulu?" (Langsung dihajar Kikoy). But she's the kocak one. Daya pikatnya ada di caranya berkomunikasi langsung dan blak-blakan dengan orang lain.

Mungkin orang Palembang saja yang akan mudah mengerti tulisan berikut ini. :D
Dan, beginilah postingannya...

"Rindu. Beneran rindu samo Rahma, Jola, Vera, Ayu, Apri, Lusi, Ariska, Tami, Siti (include Ledy & Dwi yang baleknyo ke ulu sedangke kami ke ilir). Balek kuliah sore, biarpun menges tapi selalu ado bae selo buat pacak ketawo ladas di terminal.

Rahma: Si mentel hobi masak yang dak biso seharipun idak bejajan. Nyingok bakso bakar, nak beli. Nyingok somay, nak beli. Nyingok gorengan, nak beli. Pernah bae sekali beli somay lupo ngambek sosoknyo.

Jola: Tino ini hobi fotograp biarpun caknyo dak tereksplor. Banyak tau perkembangan film. Dari sebanyak-banyak kawan aku, dio inilah yang nandak bedandan. Mantan (Kalimat yang tepat di sini saya sensor saja, haha). Biar agak selengekan, Jola ini kawan aku yang paling keren. (Ok, I have no idea).

Vera: Dari awal masok kuliah sampe dio pake toga, gaya rambutnyo dak ngubah. Mak itu mak tu lah. Pendek sebahu, poni dora. Kalem, manis. Pernah ado cerito naksir samo budak *pip* (sebuah prodi yang disensor namanya) di awal semester 1, dan baru tau kalo peciannyo tadi jugo naksir Vera di akhir vera nak lulus. Naas.

Ayu: Kawan aku yang paling kreatif. Hobi bikin craft. Ini cewek yg telaten, teliti, rapi, sederhana & pinter. Punyo pacar kawan sekelas aku tula (Ehm, mamas Tuwuh nya kami). Dio ini samo Jola la pecak pasar palimo, Ayu pasarnyo, Jola palimo nyo (abaikan perumpamaan ini). (Well, it seems like she's our leader).

Apri: Yang ini paling manis diantara kami. Kalem, dak pulo banyak bunyi (cak aku) --di bagian Kiki ngomong ini, aku mingkem. Pinter, teliti, punyo adek belagak tapi sayang mase kecik. Dio ini paling diandalke soal rebutan bangku bus, 'Prik, tempati sepoloh ikok prik!!!' (dan yuk Apri pasti bisa mendapatkannya sodara-sodara eventhough she seems like the elegant one! Hahaha).

Lusi: Ini dio kawan seperjuangan skripsi aku, kawan wisuda. Uwong Padang asli idak pake ragu. Nian aku dak bohong. Punyo pacar kawan sekelas aku tula jugo (Kuplek, he's the kindest guy and boy friend I've ever had. And he become my bro, too, like mas Tuwuh). Aku menghabiskan napas terakhir aku di kampus dengen dio inilah *Lebay? Biarlah*

Ariska: Yang ini... Ya Allah. Maapkenla. Dio ini yang paling sering aku samo Rahma bully (tapi ini bukan bully seperti di berita dan film-film itu ya). Tapi dio diem bae tiap di bully, yang ado malah ketawo, terimo nasep. Punyo kakak pecian si Rahma tadi (Cuma seru-seruan kami sebenernya). Punyo hubungan absurd samo rahma yang tak terjemahkan samo uwong awam. (Karena mas nya Ariska adalah mas yang kece dan masih 'available' sampe postingan ini di buat. Hahaha).

Tami: No many words to describe. Tapi yang aku tau dio ini ambisius, pinter, rada cuek samo peradaban sekitar. Hobi dewekan. Tapi mase kategori baek lah. (Nah, she's my partner in my final task).

Ledy: Sikok ini partner in crime aku. Cocok nian men soal watak. Diajak waras payo, diajak gilo jadi. Paling montok, bohay, sekseh. Duplikatnyo Syahrini (ulalaaa~) tapi mudah bingsal, sekalinyo bingsal seluruh jagad raya hancur lebur dibuatnyo. Tanyola Rahma men dak cayo.

Dwi: Badannyo paling kecik diantara kami, tapi bakal duluan yang nak nikah. Paling diandalke soal kendaraan, soalnyo dio yang ado mobil (jangan bayangke kalo dio bawak bus Layo. Dio cuma bawak mobil pribadi). Paling awet kalo pacaran. Teliti, jadi andalan dosen. Imut, cantik, bersih, pecak batu akik baru diasah. (Hahaha di sini aku dak abis pikir samo pemikiran Kiki).

Siti: Sikok ini keturunan Tinghoa , tapi muslim. Bejilbab pulok. Kawan aku nian waktu bikin skripsi. Kecik, lincah pecak belalang. Lompat sano lompat sini, singgonyo gesit nian geraknyo. Paling getol kalo nyari duet. Tapi aku salut nian, mungkin dio ini la kawan aku yang paling berjuang buat kuliahnyo. (Menurut aku jugo, dio hebat biso terus kuliah dengan sebagian besar biaya dari hasil usaha dio dewek).

Gimme hugs, guys. Miss u till suck!"

Aku masih terus berpikir dari dulu, kalau dia rajin menulis kismis (kisah-kisah miris) kami seperti ini, mungkin dia akan benar-benar berteman dengan Raditya Dika dan menjadi gadis terkocak sejagad Indonesia!

Nah, what if I don't miss you like you do? Oke ini ngaco bener. How can I not miss you and others after all the good, the bad and the hardest times during our study in college? Oh I miss you all guys, too!!! Nah, can you all just take me out from this skripsweet and live in your 'new life', too? :D




Jumat, 30 Januari 2015

Aku Bukan Fatimah, Apalagi Menjadi Khadijah

Karena aku (dan akhlakku) tidak bisa menjadi seperti Khadijah sehingga mampu dan yakin meminang seorang Muhammad (SAW), maka aku memilih menunggu saja seperti Fatimah yang dipinang Ali. Meskipun mendekati sepertinya saja aku bagai seekor kupu-kupu yang berharap terbang melintas awan setinggi elang.

Bahkan Rasulullah SAW sendiri sudah ditunjukkan bersama Jibril bahwa yang banyak menempati neraka adalah kaum perempuan. Aku sendiri hina, tidak seperti perempuan tersuci Maryam, bukan seorang Asiyah, bukan pula Fatimah, apalagi menjadi seorang Khadijah. Aku tak seperti keempat perempuan pilihan penghuni surga itu. Sungguh jauh. Karenanyalah tentu kami selalu berharap bertemu engkau yang lebih baik akhlaknya diantara yang terbaik, yang bisa menuntun kami menjadi perempuan yang layak bahkan dari mencium baunya surga hingga ikut layak tinggal di dalamnya. Bukan yang hanya jalan ditempat berputar dan ikut berkubang dengan kesenangan sesaat dunia.

F. F. K.

Selasa, 13 Januari 2015

Dalam Hujan Aksara

Tidak ada yang tidak pernah menangis.
Semua kita menangis saat tersadar menghirup udara dunia yang pekat.
Tersadar harus berjuang hingga mengucap selamat kepada kematian.
Lalu, bagaimana dengan perempuan itu?
Dia juga sama.
Tidak ada perempuan yang tidak pernah menangis.
Sebagai seorang perempuan, sebagai seorang anak pertama, sebagai seorang kakak pula, dan sebagai individu yang menanggung masing-masing beban, ketahuilah.
Tak mungkin ia tidak pernah menangis.
Mungkin dia memang terlihat tegar.
Mungkin dia terlihat kuat.
Terlebih kadang sikap apa adanya mengganggu dan nampak kasar.
Mungkin dia terlihat tabah.
Tapi, memang begitulah manusia.
Menyembunyikan hal-hal yang terkadang semua orang sudah mengetahuinya.
Mungkin dia memang tidak menangis dengan air mata.
Tapi sejujurnya, jika kau memang mengenal dan mengerti pribadinya, ketahuilah.
Dia sudah sangat sering menangis.
Bersembunyi dalam lebat hutan harapan.
Meski hanya dalam kata-kata. Dalam hujan aksara.

F. F. K.

Bye for Now (Maybe)

Hujan adalah salah satu sahabat terbaik para pujangga. Hujan juga merupakan teman terbaikku. Banyak kata-kata, juga kelebat hayalan ngawur yang terlintas kala milyaran titik air itu jatuh bebas ke bumi.

Hah... Itu tulisan waktu hujan tadi. Tapi karena saya hidup hanya mengandalkan wifi, jadilah tiga kalimat tersebut dipendam dulu, terhenti tiba-tiba. Fyuh, jadi lupa mau menulis apa di sini siang tadi. Padahal, momen hujan adalah momen terbaik bagi banyak orang yang suka menumpahruahkan pikiran-pikiran dan kata-kata (sok) puitis yang ada di dalam kepala mereka. Begitu juga aku, biasanya. Tapi siang tadi, ketika listrik seperti biasa dipadamkan di daerah kami jika hujan sudah membawa Pangeran Angin dan Raja Petir, maka kujadikan saja ia momen terbaik yang sudah cukup lama tidak kulakukan ketika ia hadir ataupun tidak. Tidur siang. Mendekapku erat dalam kesejukannya. Melupakan sejenak data skripsi yang sudah muak kulihat siang dan malam. Mengenyahkan sejenak pertanyaan ayah ibu--selalu saja mengurusi sidang teman-teman, kamu sendiri kapan?--yang cukup membingungkan. Yah, sekian saja. Mungkin kapan-kapan aku akan menepati janjiku pada diri sendiri, untuk membuat sebuah postingan yang mungkin berguna jika ada satu-dua pengelana aksara yang lewat dan mampir.

ARRIVEDERCI! AU REVOIR!
Maybe.